Cincin

Cinta, apa itu?

Suatu ketika, seorang teman bertanya kepadaku, “Menurutmu, cinta itu apa?” Sebuah pertanyaan yang seketika mensunyikan derasnya hujan, membisukan ramainya percakapan di area kasir, depan kami. Dalam sepersekian detik aku terdiam, tertarik kembali ke masa-masa lalu merasakan satu demi satu curahan perhatian pra lambang cinta dari keluarga, saudara, dan teman-teman.

“Cinta, cinta bagiku adalah memberi. Hanya memberi, memberi dengan ikhlas tanpa adanya ganjalan.” Begitu jawabku singkat pada temanku. Kemudian dia menyahut dengan berkata, “Kalau bagiku, cinta itu memberi, namun nantinya jika dipandang oleh orang lain itu seakan adanya suatu hubungan timbal balik.” Aku kembali terdiam, meresapi apa makna cinta itu sendiri bagiku dan apa yang telah aku rasakan selama ini.

Ya, cinta bagiku adalah suatu gerakan atau dorongan dari dalam jiwa untuk senantiasa memberi kepada orang yang kita cintai secara ikhlas hati. Ada 2 point utama bagiku agar sesuatu bisa disebut cinta, yakni ‘memberi’ dan ‘ihklas’. Cinta yang aku maksud disini bukan mengenai cinta kepada sepasang kekasih, melainkan cinta secara umum.

Sebuah ungkapan cinta tidaklah bertransformasi menjadi suatu hal yang konkret apabila seseorang yang menyatakan hal tersebut tidak mampu ‘memberi’ atau ‘membagikan’ sesuatu kepada orang yang ia cintai. ‘memberi’ disini bukan berarti sekedar memberi, namun memberi yang didasari oleh dorongan dalam jiwa. Dorongan dalam jiwa yang dimaksud adalah adanya perasaan belarasa. Dorongan ini bersifat secara refleks Karena adanya suatu ikatan emosional antara seseorang dengan orang lain. Hal ‘memberi’ disini juga bukan berarti memberikan suatu benda secara materiil, namun juga inmateriil; misalnya perhatian, sapaan, dan doa yang dipanjatkan dengan segenap jiwa.

Lalu, sikap ‘memberi’ tidaklah dapat langsung dikatakan bagian dari cinta bilamana tidak dibekali sikap ‘ikhlas’ dalam memberikan hal itu. ‘Ikhlas’, sebuah kata yang mudah kita ucapkan namun belum tentu mampu kita praktekkan setiap hari. Suatu bentuk ke-ikhlas-an (dalam diri kita), dapat kita uji sendiri dengan berbagai pertanyaan reflektif, antara lain “Siapkah aku bila pemberianku dibuang olehnya didepanku? Siapkah aku dilupakan olehnya? Siapkah aku dikhianati olehnya? Siapkah aku menderita karenanya? Apakah yang aku harapkan saat ‘memberi’ sesuatu padanya?” Beberapa pertanyaan itu tentunya hanya kita sendiri yang mampu menjawab dan menilai seberapa besar keihklasan kita kepadanya.

Cinta yang senantiasa memberi dengan ikhlas ini sebetulnya mudah kita temui disekitar kita, melalui kedua orang tua kita. Dan apabila kita juga mencintai sepertinyanya mereka mencintai kita, maka hubungan timbal balik itu akan terlihat dengan sendirinya.

Sebuah kalimat sederhana yang dalam maknanya dan mendasariku dalam arti cinta ini adalah, “tiada kasih yang lebih besar dari kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabatnya (Yoh 15:13)”

Ini adalah cinta bagiku, bagaimana dengan kamu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s