pawai salib

Kirab Paskah di Solo, menggoncang iman kah?

paskahan soloPagi ini sebangun tidurku, tetiba ponselku berbunyi tanda suatu pesan masuk. Setelah kubuka, ternyata seorang teman menanyakan kepadaku perihal Kirab Paskah di Solo, apakah hal itu benar terjadi atau tidak, sambil menyodorkan sebuah berita di dunia maya mengenai seorang ustadz yang merasa sedih akan perihal tersebut. Yah, dengan mata masih terkantuk aku mencoba mengumpulkan nyawa dan jiwa ini serta mengingat kapan peristiwa itu terjadi dan seperti apa gambaran kirab tersebut. Jujur, diriku sendiri tidaklah melihat kirab itu secara langsung, hanya memantau dari beberapa status facebook teman-teman di Solo yang menyaksikannya, dan juga Romoku yang terlibat di dalamnya.

Aku mulai penelusuranku dengan melihat sumber berita itu terlebih dahulu, dan aku mendapati beberapa media online yang sudah merilisnya, namun disini aku menyoroti dari 2 media saja. 2 media yang aku telaah lebih lanjut adalah dari kelompok A yang mengatasnamakan Katolik dengan link halaman http://bersatulahdalamgerejakatolik.blogspot.com/2015/05/tergoncang-iman-melihat-salib-ustadz.html?m=1 ; dan yang satu adalah dari kelompok B yang mengatasnamakan Islam dengan link http://bersamadakwah.net/saya-malu-kepada-allah-kirab-salib-lewati-pesantren-ini-saat-shalat-ashar/. Adapun isi berita dari kedua media tersebut secara garis besar adalah sama, yakni mengenai kegundahan seorang ustadz saat menyaksikan pawai tersebut. Namun, di media A melihatnya dari segi goncangnya iman sang ustadz dan di media B dari rasa malu dan sedih mengapa hal tersebut terjadi. Kemudian aku mulai membaca-baca komen yang ada di kedua media tersebut. Yah, kira-kira komen-komen dibawahnya ada yang terprovokasi dan juga ada yang semakin menyadari bahwa Indonesia ini memanglah Negara dengan berbagai suku dan agama serta Negara yang berbudaya dan plural.

pancasilaSebelum lebih jauh, aku akan memberikan secuil gambaran mengenai kirab tersebut. Kirab tersebut diadakan pada hari Rabu, 29 April 2015 pukul 15.00 – 17.00 dari Lapangan Kota Barat menuju ke Stadion Sriwedari, dengan jarak tempuh sekitar 1,5 – 2 KM. Adapun Kirab tersebut dibagi kedalam 3 kelompok, yakni kelompok Nasionalis dengan mengusung Garuda Pancasila; lalu kelompok Kristiani, dengan aksi teatrikal jalan sengsara Yesus dan melalui simbolisasi 270 buah salib yang dibawa oleh beberapa elemen masyarakat, kemudian kelompok budaya dengan pakaian adat prajurit Keraton. Secara mata telanjang, bila kita melihat atau mengetahui adanya 3 kelompok ini, maka akan muncul suatu gambaran bahwa Kirab Paskah ini menunjukkan bahwa Negara Indonesia yang berideologi Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika, sedang turut serta merayakan Paskah hari raya umat Kristiani, dengan dukungan dari berbagai elemen dan juga tanpa meninggalkan budaya serta adat istiadat yang ada. Itu, merupakan suatu permenungan awal yang aku tangkap dari melihat foto-foto tersebut.

Dalam berita online di kedua link tersebut, ustadz tersebut lebih menyoroti pada kelompok 2, dimana kelompok Kristiani dengan aksi teatrikal dan 270 salib besar. Maka, mari kita coba melihat apa yang ada di kelompok 2 ini lebih dalam. Kelompok ini, merupakan kelompok inti dalam Kirab Paskah, karena Paskah itu yang merayakan adalah umat Kristiani kan sehingga tidaklah lucu jika menampilkan suatu symbol agama lain. Oya, daritadi aku membicarakan symbol semoga pembaca disini memahami apa arti dari suatu penyimbolan dan ingat, symbol itu bukan jimat atau penyekutuan hal yang disimbolkan.

Mari kita mencermati aksi teatrikal yang ada, mengapa visualisasi jalan sengsara Yesus tersebut diperlihatkan ke kalayak umum, yang mungkin bagi sebagian orang hal ini merupakan bentuk kesadisan. Bagi sebagian orang yang hanya melihat visualisasi ini merupakan bentuk kesadisan itu sama artinya seseorang yang hendak makan durian tapi takut membuka kulitnya (yak, aku lagi pengen duren). Visualisasi ini perlu dilihat secara menyeluruh dan dengan penuh keheningan serta refleksi. Tokoh yang biasanya menjadi bahan utama refleksi adalah diri Yesus sendiri, kemudian prajurit, para perempuan, dan tokoh-tokoh lainnya (jika merujut dalam ibadat jalan salib). Namun disini sepertinya hanya ditampilkan diri Yesus dan prajurit. Terkadang ketika orang awam melihat kejadian itu, mereka akan berpikir, “Dia disebut Tuhan, tapi mengapa mau di pukuli oleh manusia. Ini sungguh kejam dan merendahkan Tuhan”, ya hal itu juga pernah terpikir di benakku dahulu. Namun, pernahkah kita berpikir, “Tuhan saja rela menderita demi kebahagiaan kita, bagaimana dengan kita yang senantiasa ditolong-Nya, apakah rela menderita tanpa mengeluh dalam setiap perjalanan hidup?”. Kemudian mengenai adanya 270 salib yang dibawa berbagai elemen, perlu di ketahui bahwa yang membawa salib-salib itu adalah bukan hanya orang Katolik saja. Pembawa salib-salib itu dari kalangan TNI Yonif 413, Umat Kristiani, Umat Muslim (Banser NU). Nah, terkadang orang awam menganggap bahwa dengan membawa salib itu merupakan salah satu bentuk Kristenisasi, padahal bukan. Salib merupakan suatu symbol penderitaan yang berat dan besar, maka 270 salib tersebut dibuat secara besar dan terlihat berat. Di dunia ini setiap orang tentu menerima dan memanggul penderitaannya masing-masing, dan mereka harus tetap berjalan dikehidupannya. Nah, disinilah mengapa ada berbagai elemen yang memanggul salib-salib itu, karena ini sebagai symbol bahwa salib (penderitaan) itu ada di dalam kehidupan semua orang tanpa memandang agama, suku, dkk. Kemudian jumlah salib yang 270 itu menandakan usia kota Solo saat ini. Lagi-lagi orang awam bisa berpikiran bahwa dengan begitu seluruh elemen tersebut telah menyetujui Kristenisasi di Solo dengan menyimbolkan adanya 270 buah salib. Namun, seorang yang mampu merefleksikan lebih dalam akan dapat mencapai suatu kesimpulan bahwa dalam menggapai usia kota Solo yang ke 270 ini, seluruh warga telah mengalami berbagai penderitaan yang silih berganti, mulai dari penyerangan Belanda, geger pecinan, adanya gangguan makhluk halus, konflik internal pemerintahan, dan lain-lain. (asal mula Solo dapat dilihat di link https://www.youtube.com/watch?v=CqNRRFxYgIQ) Yah, itulah mengapa ada salib sebanyak 270 buah. Menurut informasi yang aku dapat, selain Banser NU, kirab ini juga di jaga dari pihak MTA. Lagi-lagi orang awam bisa saja berpikir, “wah, ini mereka kok bisa-bisanya ikut dalam perayaan agama lain. Bahaya ini.” Namun, jika merefleksikan lebih dalam mungkin akan berpikir, “wah, sungguh hebat mereka ini. Mereka tidaklah membentengi diri mereka dengan bergaul dengan agama lain, pasti mereka sudah kuat imannya.” Yah, meskipun iman itu hanya dirinya dan Tuhan yang tahu, namun sejatinya seorang yang teguh dalam iman tidak akan goyah bila diminta berganti agama meski nyawa menjadi taruhannya.

Kemudian setelah kirab tersebut sampai di stadion Sriwedari, maka acara dilanjutkan dengan ibadah Paskah dan perayaan Paskah bersama, dan disini dihadiri berbagai tokoh agama serta dijaga oleh kalangan Banser NU dan MTA.

Kembali merujuk ke berita online di media A dan B, mari kita lihat beberapa point yang diutarakan ustadz tersebut.

  1. Solo kota salib?

pawai salibPoint pertama dari beliau menggiring kita untuk bertanya apakah dengan kirab ini menandakan Solo kota salib (kota orang Kristen). Tentu saja tidak. Mungkin beliau lupa bahwa Solo merupakan suatu kota dengan paket komplit, dari kaum religious hingga kaum penjahat ada di kota ini. Solo aku bilang kota budaya dan plural. Jika masih bingung, coba seminggu berada di Solo, saksikan bagaimana orang-orang dari beberbagai agama sangat kuat dalam beribadah. Pada hari Minggu, disaat umat Kristiani beribadah, para umat Islam mengadakan pengajian. Pengajian yang rutin setiap Minggu aku lihat itu ada di MTA depan lapangan Pura Mangkunegaran. Wau, disana dari berbagai penjuru daerah datang dan mengikuti pengajian. Lalu, terkadang di Solo juga diadakan suatu pengajian akbar dan sesudah Paskah-pun juga ada pengajian Akbar (http://www.solopos.com/2015/04/13/pengajian-akbar-masjid-agung-solo-habib-sholeh-perdamaian-tanggung-jawab-seluruh-umat-594139).

Bila datang sebelum hari raya Idul Fitri, kita akan menyaksikan besarnya Takbiran di kota Solo. Bahkan yang berbahagia bukan hanya Muslim, namun juga non Muslim. Jika datang disaat-saat Imlek, maka kita akan melihat kota Solo ini seperti sebuah Pecinan yang besar, yang ikut berbahagia juga bukan etnis Tiongkok saja, namun juga Wong Jawa ikut senang (http://www.tribunnews.com/regional/2015/02/03/sejuta-lampion-di-solo-sambut-imlek) . Jika menjelang ulang tahun Solo, maka akan ada berbagai kesenian dan panggung-panggung yang menghiasi sudut kota untuk kemeriahan Solo (http://www.solopos.com/2013/02/13/solo-ulangtahun-inilah-agenda-kegiatan-hut-378466) . Jadi, apakah Solo kota Salib?

  1. Sedih karena kirab melewati Pesantren Kota Barat, pencetak penghafal Alquran

Uhm, apakah penghafal Alquran hanya ada di pesantren tersebut? Entah aku bingung menanggapi hal ini terkait hubungannya dengan kirab itu.

  1. Anak-anak SD Muhammadiyah melihat kirab, dan dapat membekas.

Ya, tentu saja hal itu akan membekas dalam benak mereka. Mereka akan selalu ingat bahwa Kota Solo, tempat mereka tinggal merupakan sebuah rumah dengan berbagai macam perbedaan yang sungguh indah bila tidak dijaga. Jika mereka membekas karena adegan penyiksaan Yesus, mungkin mereka dapat diberitahu jika Ia itu sebagai symbol seseorang yang dengan teguh berani menghadapi penderitaan untuk suatu tujuan.

  1. Kirab tersebut lewat saat Sholat Ashar tiba.

Menurutku ini bukanlah suatu bentuk kecaman, namun evaluasi bagi penyelenggara. Agenda kirab adalah dari jam 3 hingga 5 sore, dan waktu sholat Ashar sekitar jam 3. Seyogyanya, kirab ini dimulai ketika Sholat Ashar selesai dijalankan.

  1. kesiapan umat kristiani untuk berduel dalam pilkada surakarta 2015

Tunggu, kok jadi ke politik. Ingat, agama dan politik tidak boleh di campur adukkan. Lagipula apa yakin jika pak Rudi bisa terpilih kembali? Jikalaupun terpilih, apa nantinya rumah ibadah akan di sulap menjadi gereja, lalu takbiran di tiadakan, gak boleh ada pengajian, gak boleh imlekan, dkk. Kalau beliau jadi demikian, tidak hanya non Kristiani yang marah, tapi juga orang Kristiani yang marah. Apakah yang ditakutkan jikalau ia terpilih jadi walikota kembali?

  1. Pemimpin non Muslim, kebijakan merugikan Muslim.

Kira-kira kebijakan apa kah contohnya? Mungkin dapat menjadi bahan evaluasi di pemerintahan saat ini agar nantinya tidak merugikan Muslim kembali.

Baik, mungkin demikian pendapat dan penjelasanku mengenai kirab Paskah dan berita tersebut. Bagi bapak Ustadz yang menyampaikan point-point diatas, terima kasih atas masukannya semoga hal ini dapat menjadi bahan evaluasi di berbagai pihak saat akan menyelenggarakan kegiatan agar tidak memberi rasa terlalu takut di pihak lain. Jika boleh, mungkin diacara lain kita dapat bekerja sama.

Akhir kata, mari bersatu dalam indahnya perbedaan dengan kedamaian jiwa demi memuliakan nama-Nya yang Maha Tinggi.

Semoga bermanfaat, terima kasih.

Sleman, 8 Mei 2015

Y. R. G. H.

Sumber foto: FB Romo Budi

3 pemikiran pada “Kirab Paskah di Solo, menggoncang iman kah?

  1. jika kita tidak paham janganlah kita berkomentar, hargai keyakinan orang lain…..surga/neraka tanggung jawab tiap orang pd Tuhanya,tidak ada yg bisa menjamin masuk surga kecuali perbuatan baiknya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s