Beberapa ‘Keanehan’ dalam Perayaan Ekaristi

Tulisan ini merupakan sebuah bentuk hasil dari pengamatan secara tidak sengaja dari beberapa Gereja Katolik pada saat penulis melaksanakan Perayaan Ekaristi sebagai umat. Seperti diketahui oleh warga Gereja Katolik, bahwa saat ini dalam penyelenggaraan Ekaristi kita mengacu pada buku Tata Perayaan Ekaristi tahun 2005 dan revisinya, dimana buku tersebut telah disahkan oleh Vatikan sendiri. Ya, kita sudah tidak lagi menggunakan buku TPE pada masa percobaan. Akan tetapi, sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 masih saja terdapat beberapa gereja-gereja Katolik Roma yang terkadang melewatkan beberapa hal penting di dalam buku tersebut. Penulispun akhirnya mencoba menuliskan beberapa hal yang cukup aneh terjadi pada saat perayaan Ekaristi yang menurut hemat penulis kurang atau bahkan tidak sesuai dengan acuan yang terdapat pada buku Tata Perayaan Ekaristi dan kawan-kawannya.

Ritus Pembuka

Pada bagian permulaan Ekaristi terkadang terdapat hal-hal yang terlewatkan oleh umat, yakni berkaitan dengan Tata Gerak Umat. Seyogyanya pada Ritus Pembuka ini seluruh umat dalam posisi ‘berdiri’ semenjak perarakan masuk hingga doa pembuka dipanjatkan. Akan tetapi, masih sering dijumpai bahwa umat duduk pada saat setelah salam pembuka dan berdiri kembali saat kemuliaan.

Liturgi Sabda

Bagian ini terkadang merupakan bagian yang sering terlupakan, yakni mengenai jumlah bacaan, jenis lagu antar bacaan, posisi saat menyatakan iman, dkk. Pedoman pada Liturgi Sabda telah jelas tertuang dalam Pedoman Umum Missale Romanum artikel 55, 57, dan 61, KHK 1088, serta Redemptoris Sacramentum (RS) 62, 64, 66, 67, dan 74.

  • Hal pertama adalah bacaan. Gereja Katolik Roma telah memiliki sebuah kalender liturgy dimana hal ini menjadi acuan utama mengenai bacaan-bacaan pada perayaan Ekaristi selama satu periode. Pada hari biasa (Senin-Sabtu) apabila bukan hari raya maka secara umum jumlah bacaan adalah 2 buah, yakni bacaan pertama (dari kitab perjanjian lama atau dari surat para rasul) dan bacaan Injil (kisah kehidupan Yesus). Sedangkan pada hari Minggu, yang merupakan hari mengenang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, terdapat 3 buah bacaan, yakni bacaan pertama, bacaan kedua, dan bacaan injil; dimana bacaan pertama dan kedua diambil dari kitab perjanjian lama atau surat-surat rasul). Nah, terkadang penulis menemui pada suatu gereja dimana pada Hari Minggu hanya terdapat 2 bacaan, yakni bacaan pertama dan bacaan injil saja, dengan begitu gereja tersebut secara tidak langsung menghilangkan sebuah bacaan yang seharusnya ada.
  • Hal kedua adalah lagu antar bacaan. Lagu antar bacaan adalah penghubung antara bacaan satu dengan bacaan kedua, lagu ini tidaklah harus dinyanyikan, karena syair dari lagu tersebut diambil dari Kitab Mazmur. Penulis juga sering kali menjumpai adanya beberapa gereja atau mungkin komunitas yang pada ekaristi hari minggu justru mengganti lagu antar bacaan yang berupa Mazmur dengan lagu lain.
  • Hal ketiga adalah mengenai visualisasi. Pada beberapa ekaristi kreatif, kita biasa menjumpai adanya visualisasi setelah bacaan injil disampaikan. Namun, ada satu hal yang mungkin terkadang terlewatkan yakni tata urutan dan aturan setelah bacaan injil itu adalah homily, dan perlu diketahui juga bahwa homili hanya boleh dibawakan oleh imam atau jika terdesak adalah ke seorang  Dalam penyampaian homily terkadang imam menggunakan model dua arah yakni dialog, namun tetap imam yang memberikan homili kepada umat. Model dua arah ini dapat berupa sebuah visualisasi. Jadi visualisasi merupakan suatu bentuk sarana penggambaran homili dari imam yang dibantu awam, dan tentunya sebelum visualisasi dimulai imam memberikan pengantar terlebih dahulu dan setelahnya imam juga memberikan suatu penjelasan. Nah, inilah yang terkadang terlewatkan oleh beberapa pihak yakni visualisasi dijalankan sebelum adanya pengantar dari imam pemimpin ekaristi.
  • Hal keempat adalah pernyataan iman, aku percaya. Dalam doa aku percaya yang merupakan pernyataan iman kita sebagai orang Katolik tentu saja tidak serta merta diucapkan saja, namun juga perlu adanya penghayatan yang mendalam serta ada suatu saat dimana terdapat prosesi membungkukan badan atau berlutut. Pada saat kita menyatakan “… Yang dikandung dari roh kudus, dilahirkan oleh perawan Maria… “, dalam Ekaristi biasa kecuali Natal kita wajib membungkukkan badan sebagai tanda pernghormatan dan pada saat Ekaristi Natal kita wajib berlutut.

Liturgi Ekaristi

Beranjak pada bagian Liturgi Ekaristi, pada bagian ini terkadang juga terdapat hal-hal yang suka terlewatkan.

  • Hal pertama adalah persiapan persembahan. Persiapan persembahan adalah disaat dimana umat secara serentak menyiapkan persembahan yang akan dipersembahkan kehadiran Tuhan di depan altar. Persembahan ini dapat dalam berbagai rupa baik, dan yang terpenting adalah Roti dan Anggur sebagai bahan untuk dikonsekrasikan. Dalam bagian ini terdapat umat yang dating ke depan altar untuk memberikan persembahan dengan prosesi perarakan persembahan, dan umat yang lain sibuk memberikan donasi uang yang biasa disebut ‘kolekte’. Proses persiapan persembahan sendiri berakhir disaat altar sudah tertata rapi dan imam mulai melakukan memuji Allah atas persembahan yang ada dan mengajak umat untuk berdoa. Nah, terkadang pada bagian inilah pihak paduan suara terlalu asik bernyanyi sehingga dialog antara imam dengan umat dalam memuji Allah atas persembahan terlewatkan dan akhirnya imam hanya mengajak umat untuk berdoa bersama-sama saja.
  • Hal kedua adalah prefasi. Pada saat prefasi dimulai seluruh umat hendaknya berdiri sesuai dengan ajakan imam untuk melayakkan diri untuk mengikuti perjamuan kudus. Namun yang terjadi pada suatu gereja yang belum lama penulis kunjungi adalah disaat itu ternyata masih dilakukan prosesi kolekte. Nah, jadi ini sebetulnya masih bagian persiapan persembahan atau prefasi jika kekusyukan umat justru terganggu dengan memasukkan uang kolekte.
  • Hal ketiga adalah pada saat doa syukur agung. Pada bagian ini sesuatu tata gerak liturgi adalah umat berlutut dimulai saat imam konsekrasi berlangsung (pengubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus), atau setelah nyanyian Kudus. Memang ada beberapa gereja yang tidak memberikan fasilitas untuk berlutut mengingat jarak antar bangku yang berdekatan, namun bagi gereja yang memberikan fasilitas tersebut masih sering juga dijumpai umat yang lalai untuk berlutut.
  • Hal keempat adalah doa damai. Sesuai dengan TPE terbaru, yakni doa damai bersifat presidensil (hanya didaraskan oleh imam), ternyata masih ada saja umat yang mengucapkan doa tersebut.
  • Hal kelima adalah salam damai. Salam damai adalah saat dimana kita mendamaikan diri dengan orang disekitar kita. Akan tetapi terkadang hal ini menjadi ajang untuk bersalaman kebanyak umat. Bahkan terkadang ada pula imam yang hingga meninggalkan panti imam untuk salam damai. Mengenai salam damai ini tertuang dalam Redemptoris Sacramentum 71 dan 72.
  • Hal keenam adalah anak domba Allah. Biasanya keanehan ini terjadi manakala salam damai terlalu meriah dan dinyanyikan namun anak domba Allah justru didaraskan saja. Padahal anak domba Allah merupakan saat dimana umat dikondisikan untuk menyiapkan batin sebelum menyambut komuni.
  • Hal ketujuh adalah komuni kudus. Komuni kudus hendaknya diberikan langsung oleh imam yang tertahbis secara sah kepada umat, ataupun bila kondisi mendesak boleh dibantu pelayan tak lazim (pro-diakon). Akan tetapi terkadang penulis juga menjumpai pada suatu perayaan ekaristi justru imam tidak turut memberikan komuni karena terlalu banyaknya prodiakon. Terkadang umat juga menerima komuni 2 rupa, nah sebaiknya dalam penerimaan komuni 2 rupa ini umat tidak mencelupkan sendiri hosti ke dalam anggur namun dicelupkan pula oleh imam tertahbis. Aturan-aturan mengenai hal ini tertuang jelas dalam RS 93, 94, 104, 151, 152, 154, 157.

Ritus Penutup

Pada bagian ritus penutup sering kali tidak terdapat hal berarti yang aneh. Hanya saja terkadang sikap umat setelah menerima komuni tidaklah begitu fokus terhadap perayaan ekaristi, dan terkadang juga ditemui adanya tepuk tangan yang seakan-akan perayaan ekaristi merupakan suatu bentuk pertunjukan.

Perlu diketahui juga bahwa Perayaan Ekaristi bukanlah suatu bentuk pertunjukkan, sehingga disarankan dalam suatu perayaan ekaristi tidak terdapat suatu drama, tarian atau apapun yang dapat memancing suatu tepuk tangan dan menjadikan nilai liturgy-nya hilang. Hal ini tercantum dalam RS 78 dan The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000) p. 198.

Selain dari setiap bagian liturgi yang ada, dalam hal musik terkadang juga didapati hal-hal aneh juga. Misalnya dimainkannya alat-alat band saat perayaan ekaristi berlangsung, tidak dinyanyikannya lagu ordinarium sesuai dengan teks aslinya (adanya beberapa perubahan) agar mudah dinyanyikan oleh koor.

Demikianlah sekelumit keanehan-keanehan yang saya temui beberapa tahun ini mengenai penyelenggaraan Perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik Roma, semoga nantinya beberapa Gereja yang merasa masih kurang sesuai dengan aturan yang ada mulai mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pihak Vatikan dan keuskupan setempat. Dan pada akhirnya marilah kita juga turut berpartisipasi secara aktif dan sadar dalam perayaan Ekaristi dengan benar sebagai bukti tanda cinta dan kasih kita kepada Kristus dan Gereja.

Berkah Dalem

Sumber: http://katolisitas.org/8757/sekilas-makna-liturgi-dan-beberapa-pelanggaran-liturgi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s