Renungan Hari Minggu Biasa XVI (10 Juli 2014)

Renungan Hari Minggu Biasa XVI

(10 Juli 2014)

 

Bacaan:

–          Kebijaksanaan 12:13.16-19

–          Roma 8:26-27

–          Matius 13:24-43

 

Renungan

Kehidupan di dunia penuhlah dengan tantangan dan sifat baik dan buruk. Kita sebagai manusia, hidup di dunia ini haruslah bijaksana, dapat memilah antara baik dan buruk agar nantinya kita mampu merasakan kedamaian, kebahagiaan dan pada akhirnya menikmati kemuliaan kerajaan Sorga. Kita sebagai manusia juga tidaklah boleh menyerah dengan himpitan-himpitan kondisi yang berada disekitar kita. Misalkan, apabila kita berada di lingkungan yang buruk, kita tidak boleh menyerah untuk menjadi buruk juga. Kita haruslah mampu memegang teguh identitas kita sebagai manusia baik. Janganlah khawatir apabila kita berada pada kondisi yang membuat kita tidak mampu bersuara secara verbal akan kebenaran, karena hati kita masihlah mampu menyuarakan kebenaran itu. Janganlah khawatir apabila kita dianggap buruk karena berada dilingkungan yang buruk, karena sejatinya emas tetaplah emas meski dia berada di dalam lumpur.

Pada bacaan hari Minggu ini, dijelaskan dan ditekankan bahwa Tuhan maha Penyayang dan maha tahu akan diri kita. Ia juga maha adil dan maha kuasa. Hal ini tergambarkan tidak hanya pada satu bacaan namun juga ketiga bacaan. Dan hal ini sangat lah dijelaskan oleh Yesus sendiri secara konkret seperti yang tertulis pada bacaan injil tersebut. Dalam bacaan injil, Yesus memberikan 3 buah perumpaan, yakni penabur dan ilalang, biji sesawi, dan ragi dan tepung. Mari kita renungkan setiap perumpaan tersebut.

  1. Penabur dan Ilalang

Pada perumpamaan kali ini meski memakai object yang mirip dengan bacaan injil minggu lalu yakni penabur, benih, dan ladang (lahan). Namun, maksud dari ketiga objek tersebut tidak lah sama dengan perumpaan kali ini. Minggu lalu, penabur berarti Tuhan, benih berarti sabda ilahi, dan lahan (ladang) berarti sikap diri kita; sedangkan sekarang, penabur berarti Tuhan (anak manusia), benih berarti diri kita (benih baik: anak-anak kerajaan Allah), dan ladang adalah lingkungan kita (dunia). Kemudian pada perumpaan kali ini juga terdapat ilalang, musuh, dan juga penuai, ilalang berarti anak-anak jahat (kuasa iblis), musuh berarti iblis, dan penuai berarti malaikat. Setelah kita mengetahui dan memahami istilah-istilah dari perumpamaan tersebut, marilah kita mulai mencerna dan merenungkannya.

Kita sebagai manusia yang hidup didunia ini, diciptakan oleh Sang Pencipta yakni Tuhan Allah. Hal tersebut digambarkan bahwa penabur menabur benih yang baik di suatu ladang. Mengapa disebut benih baik? Karena pada awal mula penciptaan segala sesuatu, dan termasuk manusia tentunya, diciptakan dengan keadaan baik. (bdk. Kej 1:31). Akan tetapi, di alam ini juga ada suatu kuasa jahat, yakni iblis. Dan iblis itulah yang senantiasa berusaha untuk merusak kehendak baik Allah, dengan membuat manusia jatuh dalam dosa. Iblis lah yang selalu berusaha menciptakan godaan dan tantangan yang menghimpit hidup kita agar kita lengah dan mati karenanya. Maka dalam perumpamaan tersebut, digambarkan seorang musuh yang menaburkan benih ilalang dengan maksud agar gandum itu mati terhimpit oleh ilalang yang tumbuh disekitarnya. Prosesi matinya gandum didalam himpitan ilalang ini dapat berarti benar-benar tidak dapat tumbuh, atau juga gandum tersebut tumbuh kecil dan tidak terlihat oleh penjaga ladang sehingga nantinya ketika ilalang itu dicabut, maka gandum itu akan tercabut pula dan akhirnya mati. Nah, hal inilah yang diketahui Tuhan, bagaimana maksud iblis agar manusia tidak tumbuh sesuai kehendak Allah dan mati karenanya. Tetapi hal ini terkadang tidak kita sadari, sehingga kita sering menjadi seperti penjaga ladang, yang ketika melihat ilalang berada diantara gandum segera ingin bertindak untuk mencabut ilalang tersebut.

Sejenak mari kita renungkan sikap penjaga tersebut yang ternyata sering menjadi sikap kita juga terhadap lingkungan masyarakat kita. Kadang kita sering geram dengan adanya tindakan-tindakan yang kita rasa tidak benar secara moral dan norma, dan kita ingin memberantasnya, melaporkannya, dan menuntutnya. Tetapi pernahkan kita menelisik lebih jauh kepada actor-aktor maupun manusia-manusia yang melakukan hal itu? Pernahkah kita bertanya kepada mereka apakah mereka melakukan hal itu dengan niat itu pula atau terpaksa? Pernahkah kita bertanya pada diri kita apakah semua orang yang terlibat didalamnya itu buruk sehingga harus dibasmi? Kita seringkali lupa melakukan tahapan-tahapan semacam itu ketika menghakimi suatu tindakan. Kita sering lupa untuk memahami akar dari tindakan itu sebelum memberi penilaian akan orang-orang yang terlibat. Sebagai contoh nyata, kita tahu bahwa diskotik itu mengakibatkan dampak buruk, baik kesehatan dan moral nantinnya, dan berdasarkan hal itu kita langsung bertindak dengan memberi stempel pada orang yang ke diskotik adalah orang buruk. Apakah tindakan itu benar? Tentu tidak. Meski di dalam diskotik memang ada orang buruk, namun tidak semua yang berada di diskotik tersebut orang buruk. Nah, inilah yang perlu kita renungkan dan tindakkan, bagaimana cara kita dalam menilai suatu hal dan tindakan.

Selain perenungan sebagai penjaga ladang, mari kita renungkan diri kita sebagai benih gandum itu. Kita tahu hidup penuh dengan tantangan, bagai gandum yang dihimpit oleh ilalang. Kita sebagai manusia dalam menghadapi situasi demikian sering diberi 2 pilihan, yakni hadapi tantangan, atau menyerah pada tantangan. Tentu ada konsekuensi diantara keduanya yakni menjadi semakin dewasa dan bijak, atau semakin lemah dan mati akhirnya (mati disini berarti tidak memiliki harapan atau daya juang untuk hidup). Inilah yang diberikan Tuhan kepada kita, yakni kesempatan untuk memilih ketika berhadapan dengan suatu tantangan. Tuhan tidaklah memanjakan kita dengan membersihkan ilalang diantara gandum, Tuhan juga tidak ingin membasmi kita karena gandum tersebut tertutupi oleh ilalang, karena Tuhan ingin agar kita mampu untuk tumbuh menjadi lebih dewasa dalam menghadapi segala himpitan tantangan tersebut, Ia ingin gandum itu tetap tumbuh dan menjadi unggul meski dihimpit oleh ilalang.

Baik, mari kita kembali ke alur perumpamaan. Kemudian penabur itu memberi tahukan kepada penjaga bahwa ketika masa tuaian tiba, ia akan menyuruh para penuai untuk  mengumpulkan ilalang dahulu dan membakarnya, lalu baru mengumpulkan gandum dan menyimpannya kedalam lumbung. Pada bagian ini, Yesus sendiri menyampaikan suatu pesan kepada kita untuk selalu hidup menjadi diri sendiri dan tidak menyerah oleh keadaan, Ia memberi harapan kepada kita bahwa nantinya kita akan disatukan dan dibawa kedalam kerajaan Allah. Sedangkan mereka yang masih berada dalam kuasa iblis akan dilebur dalam api, yakni neraka.

Baik, mungkin demikian secuplik bahan renungan mengenai perumpaan penabur dan ilalang, mari kita beranjak pada perumpaan kedua.

 

  1. Biji Sesawi

Pada perumpamaan kali ini Yesus mengambil suatu hal yang benar-benar ada disekitarnya, yakni biji sesawi. Sebelum kita merenungkan perumpamaan ini, mari kita cari tahu sekilas mengenai apa itu biji sesawi. Biji sesawi merupakan suatu benih dari tanaman sesawi, suatu tanaman tahunan yang dapat tumbuh di tanah Israel (jaman Yesus). Biji sesawi sendiri memiliki ukuran diameter kurang lebih 1 milimeter, sangat kecil bukan. Namun, pohon sesawi sendiri apabila tumbuh ditempat yang baik, ia mampu tumbuh hingga mencapai ketinggian 4-5 meter dan akan mencapai ketinggian 1,2 meter pada tanah biasa. Cukup besar untuk jenis tanaman sayuran tentunya. Dalam perumpaan ini, biji sesawi diandaikan suatu bentuk iman manusia.

Setelah cukup mengerti sekilas mengenai apa itu biji sesawi, maka mari kita renungkan perumpamaannya.

Yesus dalam perumpamaan ini ingin memberikan suatu bentuk gambaran, motivasi, harapan, dan pilihan kepada kita juga. Ia memberikan gambaran kepada kita bahwa meskipun saat ini kita hanya memiliki iman yang sangatlah kecil namun sesungguhnya bilamana kita rajin memupuknya iman itu akan menjadi besar. Yesus memberikan motivasi dan harapan pada kita agar kita senantiasa mengolah terus iman kita agar nantinya iman tersebut menjadi sangat besar. Dan ia memberikan pilihan kepada kita antara menjadi tanah biasa yang hanya mampu menumbuhkan pohon sesawi setinggi 1,2 meter atau tanah subur yang baik dan mampu menumbuhkan pohon sesawi setinggi 4-5 meter.

Sekiranya itulah sekelumit maksud Yesus dalam perumpamaan tersebut, dan semoga mampu menjadi bahan permenungan kita untuk senantia mengolah iman dan diri kita agar semakin dekat dengan kehendaknya.

 

  1. Ragi dan Tepung

Perumpamaan ini merupakan perumpamaan yang cukup pendek, karena hanya sekalimat saja. Namun, perumpamaan ini sangat mudah dipahami terutama oleh mereka ibu-ibu ataupun yang biasa berada di dapur untuk memasak dan membuat roti. Ragi merupakan komponen pengembang dalam suatu adonan roti. Dan tepung sendiri merupakan bahan utama dalam membuat roti. Sedangkan sukat merupakan suatu ukuran dimasa Yesus dahulu, 1 sukat kira-kira 12 liter. Dapat dibayangkan berapa banyak tepung apabila disebutkan 3 sukat kan. Ragi disini diartikan sebagai iman, dan tepung adalah sikap dan diri kita sendiri.

Baik, setelah mengerti dan cukup paham mengenai istilah yang digunakan dalam perumpamaan maka mari kita renungkan perumpamaan tersebut. Sebetulnya perumpamaan ini sama seperti perumpamaan biji sesawi, tetapi mungkin kita lebih mudah membayangkan perumpamaan ini.

Ketika kita membuat roti, tentu kita akan menggunakan tepung dan ragi agar roti tersebut itu mengembang. Dan dalam membuat roti, tidaklah mungkin jumlah ragi tersebut melebihi jumlah tepungnya.

Disini Yesus memberikan suatu gambaran yang cukup mencolok yakni adonan sebanyak 3 sukat (36 liter) dicampur oleh ragi yang diambil perempuan, maka akan khamir (seluruh adonan bercampur ragi). Dan barulah adonan tersebut akan menyembang. Pada perumpamaan ini Yesus menyatakan bahwa seberapa banyak atau besar sikap kita dalam berkehidupan, apabila tidak kita dasari atau campur dengan iman meskipun itu kecil (sedikit) maka diri kita tidaklah mampu berkembang secara maksimal. Jika roti akan disebut roti bantet.

 

Setelah Yesus memberikan ketiga perumpamaan tersebut, pada akhir pembicaraan ia berkata, “Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar”. Kata-kata Yesus ini merupakan suatu himbauan, ajakan, dan juga perintah bagi kita semua untuk senantiasa mendengar. ‘Mendengar’ disini berarti menangkap segala yang ada dan terjadi disekitar kita, dan berdasarkan dari yang kita tangkap lalu hendaknya kita cerna sebagai bahan diri kita dalam melangkah disetiap langkah hidup kita di dunia ini.

Demikianlah sedikit penjelasan saya atas tiga perumpamaan Yesus pada hari Minggu ini. Semoga kita dapat senantiasa merenung dan berintropeksi diri sejauh mana kah kita mengolah iman dalam menanggapi setiap pilihan dan tantangan dalam hidup kita ini.

Selamat hari Minggu…

Berkat dan damai Tuhan besertamu.

Sleman, 20 Juli 2014

 

Yulius R. Galih H.

 

Sumber:

  1. Khotbah Romo Subi, pada misa Sabtu, 19 Juli 2014 di Pringwulung
  2. http://indonesiaindonesia.com/f/6106-biji-sesawi/
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Perumpamaan_ragi
  4. http://id.wiktionary.org/wiki/berkhamir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s