Minggu, 3 Februari 2013 – Hari Minggu Biasa IV; #Renungan

Yer. 1: 4 – 5, 17 – 19; Mzm. 71:1-2, 3-4a,5-6ab, 15ab, 17; 1Kor. 12:31 – 13:13; Luk 4:21 – 30

 Renungan:

Segala sesuatu sebelum terjadi dimuka bumi ini telah direncanakan dan diberi maksud serta tujuan oleh Allah sendiri. Sama halnya dengan kelahiran seorang manusia di dunia, pastilah memiliki maksud dan tujuan tersendiri, Dan oleh karena itu, Ia begitu mengenal siapa diri kita dan kita tidaklah mungkin mengingkari-Nya. Adapun yang dimaksud mengingkari disini adalah bagaimana terkadang kita tidak mempercayai kemampuan atau keistimewaan didiri kita dan mengeluh pada-Nya dengan berkata “Kenapa aku seperti ini?”, hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut belum begitu mengenal dirinya sendiri. Pertanyaan itu akan terlontar ketika seseorang menghadapi masalah yang dirasa sangat menurunkan semangat hidupnya, padahal perlu diketahui bahwa Tuhan tidaklah pernah memberikan ciptaan-Nya masalah bila masalah tersebut melebihi kemampuan dirinya, karena Tuhan begitu mengenal setiap ciptaan-Nya. Hal ini dijelaskan pada bacaan pertama dimana Tuhan berfirman: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”.

Segala sesuatu dimuka bumi ini diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan, dan itulah sebagai karunia-karunia setiap ciptaan. Bagi manusia sendiri kita memiliki berbagai karunia yang jarang ditemui di ciptaan lain, dan tugas kitalah untuk mengenali setiap karunia-karunia yang ada dan berusaha untuk mengembangkan dan memanfaatkannya. Akan tetapi segala karunia tersebut tidaklah berarti besar bagi kita apabila kita tidak memiliki dan mengembangkan satu karunia yang utama yakni KASIH. Sehingga bila kita memiliki keahlian membuat teknologi besar, mengumpulkan massa, bernubuat kemana-mana, hal itu semua tidaklah berarti bila kita sendiri tidak menerapkan kasih dalam setiap karunia yang ada. Melalui kasih inilah kita akan menjadi lebih mengenal tidak hanya diri sendiri namun juga orang lain dan sesame kita. Dan seperti apa kasih itu hal ini dijelaskan pada bacaan kedua.

Setelah mengenal diri sendiri, mengembangkan karunia dan melaksanakan kasih kepada seluruh ciptaan; kadang kala kita merasa ditolak, atau justru tidak dianggap dan diremehkan oleh orang sekitar kita meski orang tersebut adalah orang-orang yang berada lama bersama kita. Namun, janganlah berkecil hati. Karena mereka sebetulnya tidaklah tahu akan apa yang kita sampaikan karena mata mereka sudah terbiasa atau tertutup dengan kebiasaan-kebiasaan lama kita dan memandang kita kurang mampu dalam hal itu, dengan kata lain mereka tidak menghargai akan apa yang kita perbuat untuk mengembangkan orang disekitar kita sendiri. Hal ini dijelaskan pada bacaan Injil yakni bagaimana tidak ada seorang nabi yang dihargai di tempat asalnya.

Dari bacaan pertama, kedua dan Injil terkadang tanpa kita sadari kita sendiri mengalami hal tersebut, kita mulai mengenal diri kita lalu mengembangkan karunia dan memberinya nilai kasih tapi kita justru ditolak oleh orang-orang yang ada disekitar kita. Atau mungkin justru kita yang menolah orang-orang disekitar kita ketika mereka berusaha memberikan nasihat, atau bantuan, atau bahkan dukungan moril atau materi kepada kita karena yang terlihat dari mata kita adalah mereka tidak tahu akan apa yang kita hadapi atau mereka belum merasakan dan memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah kita. Dan hal yang paling ekstrim sebagai contohnya adalah di Negara Indonesia sendiri, bagaimana seorang anak Bangsa yang pulang belajar dari negeri jauh dan bermaksud memajukan bangsanya dengan penemuannya yang diakui oleh dunia, justru disia-siakan dan disingkirkan secara halus karena dianggap tidak menguntungkan dan membebani Negara waktu itu.

Permenungan:

  1. Akankah kita tetap bersedia mengenali diri, mengembangkan karunia dan memanfaatkan untuk segala ciptaan dengan kasih meskipun kita ditolak?
  2. Akankah kita bersedia rendah hati menerima masukan atau kelebihan orang lain, meskipun dahulu dia orang yang dibawah kita, atau meskipun kita merasa dia tidak mengetahui permasalahan dan hidup kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s