Salib #2: ‘Beban Hidup dan Kemenangan’

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” [Mat 16:24]

Pada tulisan pertama saya mengenai salib, Salib #1: ‘Alat atau Jimat’, kita telah tahu bahwa sebagai benda salib bukanlah suatu jimat yang dapat menyelamatkan. Namun, salib berfungsi sebagai pengingat yang menyimbolkan suatu karya penyelamatan Allah kepada dunia. Maka pada tulisan kali ini saya akan berbicara mengenai salib sebagai suatu perumpamaan nyata dalam menghadapi kehidupan di dunia.

Hukuman salib, pada dulu merupakan suatu bentuk hukuman mati yang amat kejam (jaman Yesus). Salib sendiri terbuat dari 2 balok kayu yang di palangkan untuk memancang manusia dengan mengikat/memaku pada tangan dan kaki. Sebelum menjalani hukuman tersebut, sang terdakwa diwajibkan membawa salibnya sendiri dengan dipikul dari tempat penjatuhan hukuman hingga ke suatu bukit (bukit Golgota) dan kemudian ia baru di salib hingga mati disana.

Paragraf diatas merupakan suatu gambaran singkat mengenai apa itu hukuman salib dan salib. Betapa beratnya beban seseorang ketika menjalani hukuman tersebut. Ia harus membawa balok kayu yang beratnya berlipat-lipat dari berat tubuhnya. Dan penderitaan itu masih ditambah dengan diikat/dipaku di kayu tersebut, kayu yang ia bawa sendiri. Mungkin disini kita sudah dapat membayangkan bagaimana beratnya menjalani hukuman tersebut.

Nah selanjutnya, pada kutipan ayat diatas Yesus sendiri mengatakan bahwa siapapun yang mengikuti dia wajib untuk memikul salibnya terlebih dahulu. Salib dalam ayat ini bukan berarti salib pada hukuman salib tersebut, namun salib disini adalah segala beban duniawi, beban kehidupan yang sering kali dijumpai dalam keseharian kita. Beban tersebut misalkan: patah hati, dikecewakan, kegagalan, ditinggalkan, dll. Memikul salib adalah memikul beban, disini juga tidak berarti beban tersebut harus kita bawa kemana-mana tanpa kita selesaikan. Karena pada kenyataannya pula memikul salib juga perlu disesuaikan agar posisinya nyaman di bahu kita.

Salib, merupakan beban dalam hidup. sebetulnya beban itu tidak hanya segala yang membuat kita sedih, capai ataupun kesal. Akan tetapi, kesenangan yang berlebihpun dapat menjadi suatu beban kepada kita. Menjadi beban karena tidak semua orang disekitar kita merasakan suatu kesenangan yang sama ketika kita merasakannya, mungkin mereka merasakan sedih ataupun lebih senang. Dan hal tersebut dapatlah menjadikan suatu kecemburuan sosial. Kemudian bagaimana sebaiknya mengatasi semua beban itu? Mengatasinya adalah dengan berlaku bijak, bijak dalam setiap kondisi, apabila kecewa janganlah berlarut-larut dan segeralah bangkit mencari solusi serta apabila senang janganlah dibesar-besarkan merunduklah bahwa masih ada orang yang tidak sesenang kita.

Lalu, dalam memikul salib (BEBAN HIDUP) tersebut, kita juga mengikuti Dia, yaitu Yesus Kristus. Seperti apa kita mengikutinya? Apabila kita mengikuti seseorang, tentu saja ita tidak berjalan disamping ataupun didepannya. Namun kita akan berjalan agak lebih belakang dari orang yang diikuti. Selain itu kita secara tidak langsung akan ikut kemanapun orang tersebut melangkah dan turut bertingkah laku apa yang ia lakukan. Misalnya ketika seorang remaja mengikuti kekasihnya di pasar malam, maka ia akan selalu mendekatkan diri kepada kekasihnya dan berbuat menyerupai apa yang kekasihnya lakukan, contoh bila kekasihnya memesan minuman, maka remaja tersebut kemungkinan besar memesan minuman yang sama. Demikian pula seperti kita mengikuti Yesus Kristus sang Putera Allah Bapa, dalam mengikuti-Nya kita seharusnya berjalan didekatnya dan turut melakukan apa yang telah ia lakukan.

Sehingga ketika memikul beban hidup sehari-hari wajiblah bagi kita untuk memikul dan menjalani kehidupan seperti apa yang telah Ia lakukan. Dengan sabar, tekun, taat, dan tetap membagi kasih kepada semua orang. Kemudian jika kita telah berhasil memikul beban dan mengikutinya, maka kita akan mencapai garis finish yaitu suatu kemenangan. Bagaimanakah kemenangan itu? Kemenangan dalam hal ini bukanlah teriakan-teriakan, pestapora yang menghambur-hamburkan, namun kemenangan disini adalah suatu kedamaian jiwa, kebahagiaan batin yang tara.

Memikul salib kita sendiri dan mengikuti-Nya akan mencapai suatu kemenangan? Ya, itu karena dengan memikul salib dan mengikuti-Nya dalam iman kita, maka kehinaan tekun memikul salib tersebut akan terganti dengan sukacita yang telah disediakan bagi Dia. [Ibr 12:2]

Oleh karena itu, marilah kita bertekun dalam memikul salib kita masing-masing dengan mata tertuju kepada-Nya untuk mengikuti Dia menuju sukacita kedamaian Kerajaan Sorga.

Semoga bermanfaat,
berkah Dalem,

Y. Radian G. H.

3 pemikiran pada “Salib #2: ‘Beban Hidup dan Kemenangan’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s