Filsafat Wayang, Harta yang dihargai di Negara Lain

Akhir-akhir ini, antusiasme para kaum muda di Indonesia terhadap seni budaya dalam negeri mengalami penurunan. Terutama antusiasme mereka terhadap dunia pewayangan. Apabila kita menengok kedalam gedung-gedung pertunjukan budaya, khususnya wayang pada malam hari, mata kita hanyalah di tunjukkan oleh para kaum-kaum tua saja yang setia berpartisipasi menontonya hingga pagi. Mungkin bagi sebagian kaum muda lebih memilih menonton film mitologi barat, manga, ataupun drama asia yang beberapa tahun ini menghiasi dunia hiburan Indonesia serta mereka menganggap bahwa wayang hanyalah konsumsi kaum tua dan membosankan.

Sebetulnya sudah sering saya mendengar bahwa minat orang manca akan wayang lebih tinggi daripada orang pribumi sendiri, terlebih dari cerita orang disekeliling saya bahwa para ahli budaya Jawa pada khususnya lebih mudah dapat pekerjaan di luar negeri. Hal tersebut juga pernah beberapa kali saya jumpai di gedung pertunjukan budaya serta lingkungan kampus/rumah, kebanyakan selain orang tua yang menikmati pertunjukan adalah para orang luar negeri, dan di lingkungan kampus/rumahpun ternyata cukup banyak orang luar yang belajar budaya klasik Jawa daripada orang dalam negeri.

Kali ini saya cukup di kejutkan oleh sebuah berita dari Pos Kota yang menyebutkan pada kepala beritanya bahwa Filsafat Wayang Memukau Kaum Muda Belanda. Pada artikel berita tersebut di jelaskan betapa antusiasnya para pendidik dan kaum muda Belanda dalam mempelajari wayang Indonesia, entah dari Jawa, Bali atau Lombok. Mereka bukan hanya ingin mengetahui soal bagaimana latar belakang dari beberapa kisah wayang namun juga untuk beberapa tujuan antara lain:

  • mempelajari filsafat Mahabarata dan Ramayana
  • untuk membangun karakter para kaum muda, khususnya tata bahasa dan sopan santun
  • belajar gerak gerik tari klasik
Mungkin bagi sebagian orang merasa aneh mengapa untuk mempelajari ketiganya harus mempelajari/menonton wayang. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa dalam wayang sejatinya mengandung semua nilai-nila kehidupan. Cara pembangunan karakter, cara bertata krama, berbagai kisah mengenai dilema sosial dalam kehidupan di dunia, dan masih banyak lagi manfaat lain dalam mempelajari/menonton wayang.

 Akan tetapi sepertinya di negeri pencipta wayang sendiri segala itu tidak begitu diperhatikan, bukan saja oleh para kaum mudanya namun juga oleh pemerintahan. Mereka lebih memilih untuk berpikir secara praktis tanpa memikirkan konsep menjalani sebuah kehidupan untuk kedepannya. Hal itu terbukti bahwa pada kenyataannya untuk belajar menjadi ahli budaya Jawa saja harus bertolak ke negeri orang. Akankah esok ketika kita rindu akan dunia pewayangan kita juga harus mengimpor dalang beserta para niyaga dan wayangnya dari luar negeri yang ternyata pemainnya berkulit putih semua? Atau, apakah esok kita akan berbondong-bondong ke bioskop karena sebuah film garapan sutradara ternama dan kita tidak tahu bahwa itu cerita dari negeri kita? Tidak malukah kita bahwa harta kita lebih di hargai oleh orang lain, sedangkan kita mengabaikan harta tersebut?

Semoga dengan ini kita sadar bahwa telah memiliki sebuah kebudayaan yang luhur dan komplit untuk membangun karakter baik diri sendiri atau bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s