Wayang, Indonesia, dan Pancasila

Entah kenapa tiba-tiba saya berpikir soal jiwa Indonesia saat ini. Mungkin karena pemberitaan televisi yang begitu menggebu-gebu soal NII, yang konon ingin merubah negara republik ini menjadi negara agama. Pemikiran saya ini, mungkin konyol, timbul ketika saya tidak sengaja melihat sebuah link foto bentuk pulau Kalimantan, pulau terbesar di Indonesia. Dimulai dari foto itullah tiba-tiba otak ini berputar dan teringat akan sebuah mitologi pewayangan pada mulanya. Kemudian ketika saya melihat peta keseluruhan Indonesia, darah otak ini kembali mengalir keras dan memunculkan bayangan soal Ideologi negara ini. Sebelum saya memulai pembahasan yang terpikirkan ini, saya mohon maaf apabila ada salah tafsir atau salah kata karena saya tidaklah berasal dari bidang studi fisipol ataupun ilmu budaya.

Indonesia, merupakan sebuah negara kepulauan yang amat besar karena memiliki ribuan pulau Terakhir saya ketahui sekitar 17.000 pulau terbentang di wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Dari ribuan pulau tersebut, terdapatlah 5 pulau yang sangat menonjol, yaitu Pulau Kalimantan, Pulau Irian Jaya, Pulau Sumatera, Pulau Sulawesi, dan Pulau Jawa. Berikut adalah penampakan sebaran sebagian pulau di Indonesia.

Dari gambar tersebut akan sangat nampak kelima pulau terbesar di Indonesia dan Kalimantan sebagai Pulau yang terbesar dan beradaa di tengah-tengah negara ini.

Ketika memandang peta tersebut, mata saya tertarik akan bentuk dari pulau Kalimantan yang bagi saya tidak begitu asing dengan bentuk-bentuk pewayangan. Yah, bentuk itu menyerupai sebuah tokoh dalam dunia pewayangan. Hebatnya lagi, tokoh tersebut tidaklah dapat dijumpai dalam dunia pewayangan di negara lain, karena tokoh tersebut merupakan salah satu tokoh ciptaan pujangga Jawa pada masa Kerajaan Majapahit. Tokoh tersebut merupakan titisan Dewa Kahyangan yang menjadi pengasuh Ksatria di Bumi, Pandawa. Yap, tokoh tersebut adalah Semar. Berikut adalah gambaran Semar yang biasa ditemui:

Kemudian, setelah terpana dengan bentuk pulau terbesar itu, mata saya kembali melihat ke pulau-pulau lain. Hingga saya berhenti dan termenung ketika saya sadari bahwa jumlah pulau terbesar di Indonesia itu sama dengan jumlah pokok pikiran dalam Ideologi Indonesia sendiri. Saya tidak tahu apakah ini merupakan sebuah kebetulan atau kesengajaan. Yang pasti ini merupakan sebuah pertanda bahwa negara ini ada di muka bumi bukan karena asal-asalan saja, tapi karena kehendak yang kuasa.

Sebetulnya tadi saya hanya terpikirkan oleh 2 hal yang terpikirkan ketika melihat peta Indonesia. Akan tetapi ketika menulis ini, tiba-tiba saya terperangah ketika mencoba menggariskan ujung demi ujung di peta itu secara abstrak (tidak sesuai dengan batas negara yang ada). Berikut garis yang saya ciptakan di sekitar kepulauan Indonesia yang juga memotong negara tetangga (bukan bermaksud mengklaim lho, ini hanya garis abstrak).

Dalam garis asal nan mawut lan abstrak itu, saya melihat adanya sebuah lukisan kapal di dalam peta Indonesia ini. Apakah itu juga merupakan sebuah kebetulan? Apakah gambaran Semar, Pancasila, dan Kapal yang ada dalam bentangan kepulauan Indonesia ini hanyalah sebuah kebetulan semata? Mari kita renungkan lebih dalam.

  • Semar
Semar merupakah tokoh penasihat Pandawa yang berasal dari Kahyangan. Dalam berbagai cerita ataupun Mitologi, Semar di gambarkan sebagai sosok yang bijak memiliki pemikiran luas dan jauh kedepan serta mengabdi kepada Pandawa demi kesejahteraan manusia. Tidak jarang pula banya tokoh masyarakat yang menggunakan tokoh Semar sebagai gambaran dirinya dalam memimpin rakyatnya. Walaupun Semar merupakan punokawan, penasehat Ksatria, tapi beliau memiliki kemampuan yang besar untuk membantu membuat Ksatria untuk memutuskan langkah selanjutnya.
Dalam hal ini saya berkeyakinan bahwa jiwa seseorang seperti Semar inilah yang patut kita perjuangkan dan juga jaga demi kelangsungan kesejahteraan rakyat Indonesia. Jiwa tersebut hendaklah di tempatkan di tengah-tengah rakyat sebagai sesuatu yang menonjol agar seluruh rakyat dapat dengan mudah melihat dan mencontoh sikap demikian. Itulah sebabnya bentuk Pulau Kalimantan, yang berada di tengah bentangan Indonesia menyerupai bentuk Semar. Agar kita selalu ingat untuk menumbuhkan sikap Semar dalam diri kita di tengah masyarakat.
  • Pancasila
Pancasila, merupakan sebuah Ideologi yang hanya ada satu penganutnya di dunia, yaitu Indonesia. Ideologi itu pun terlahir dari orang Indonesisa asli, dan merupakan kristalisasi dari kebudayaan Indonesia.
Jika tadi saya menggambarkan bentuk Semar berada di tengah-tengah, dan kita ingat bahwa Semar mmerupakan titisan Dewa dari Kahyangan, maka dengan demikian kitapun harus menempatkan Sila pertama juga ditengah-tengah. Mengapa? Karena sila pertama merupakan sila yang mencerminkan bahwa rakyat Indonesia ini memiliki Tuhan dan percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Kemudian dari kepemilikan dan kepercayaan itu untuk mengamalkannya diperlukan Sila kedua hingga Sila kelima.
Indonesia memiliki ribuan pulau dengan 5 pulau terbesar (dapat dikatakan penopang) yang tanpa 5 pulau tersebut negara ini akan menjadi sebuah negara yang relatif kecil (tidak kecil banget). Begitupula dengan suku dan pandangan hidup tiap rakyat yang berbeda-beda dari Sabang hingga Merauke, namun itu semua tidaklah akan menjadi besar apabila tidak berdasarkan 5 Sila yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri. Disini saya ingin mengatakan bahwa Pancasila bagaikan penopang dari keberadaan dan identitas Indonesia di ranah dunia.
  • Kapal
Garis yang sangat asal tadi menjadi seperti sebuah bentuk kapal. Kita tahu bahwa kapal/bahtera merupakan sebuah perumpamaan yangs ering digunakan apabila ada keluarga baru yang sedang terbentuk atau perumpamaan sebuah keluarga dalam menjalani hidup berkeluarga. Demikian pula dengan saya dalam penggambaran kapal yang ada di balik peta Indonesia ini. Disini saya mengumpamakan negara Indonesia ini adalah sebuah bahtera yang sedang mengarungi samudera. Dan lagi-lagi penempatan kemudi kapal tepat berada pada kepala pulau Kalimantan yang tadi saya sebut menyerupai Semar dan sebagai tanda penempatan Sila pertama yang harus menjadi poin penting dalam hidup. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa dalam mengarungi samudera ini, Kapal Indonesia hendaklah mengemudikannya berlandaskan atas keyakinan, penyertaan dan ucap syukur dalam bimbingan Tuhan yang Maha Kuasa. Kemudian selain itu juga alangkah baiknya apabila kapal ini dikendarai dengan prinsip-prinsip kekeluargaan.
Sebetullnya masih ada beberapa hal yang saya pikirkan ketika melihat peta Indonesia tersebut. Namun saya rasa ketiga hal inilah sebagai point utama yang sangat terkait satu sama lain dan dapat terlihat jelas bila kita memikirkan dan merenungkannya secara benar.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda semua, agar menjadi pribadi yang lebih bangga akan kekayaan spiritual dan juga kekayaan bangsa sendiri sehingga menumbuhkan semangat nasionalisme diantara kita. Selain itu, juga agar kita semua tetap menghargai dan mempelajari serta menggunakan kebudayaan-kebudayaan setempat karena sesungguhnya kebudayaan itu lebih klop dengan kita dibanding dengan kebudayaan luar.
Sekian dan Terima Kasih.
Berkah Dalem
Yulius Radian Galih Hastanto

5 pemikiran pada “Wayang, Indonesia, dan Pancasila

  1. pancasila bukan sekedar dasar negara, pancasila kalau menurut saya lebih mendalam daripada itu. pancasila adalah segala tata atur prilaku manusia. sedangkan wayang, saya masih ingat ketika aku kecil dulu yang begitu antusiasnya orang2 kampung untuk menyaksikan pagelaran wayang. dan aku juga masih ingat ketika dulu mbahku bercerita tentang wayang yang menurutnya bukan hanya sekedar kebudayaan. menurut beliau wayang adalah gambaran menyeluruh manusia, perilaku yang di gambarkan dalam semua cerita wayang mengandung pendidikan moral yang sangat dalam. wayang dan indonesia adalah satu kesatuan yang memang tidak bisa di pisahkan dalam cerita2 yang terkandung dalam wayang merupakan cerita tentang indonesia. saya masih begitu ingat ketika mbahku mendongeng. satu persatu di jabarkan dengan begitu gamblang. dulu aku masih begitu bodoh untuk mengerti semua itu. namun sekarang aku mulai menyadari begitu dalamnya beliau menjabarkan wayang kala itu. tahun 1999, aku jadi ingat kembali ketika semua orang ribut kalang kabut beranggapan akan terjadi peristiwa genting seputar tahun tersebut yang akan memasuki tahun 2000,seingat saya kakek dulu cerita ” nanti pada tahun NOL” itu mungkin yang di maksud kakek adalah tahun 2000, yang pada waktu itu meenurut kakek saya kembalinya pakem tanah jawa yang di pinjam bangsa arab akan kembali, pada waktu itulah kakek bercerita kepadaku untuk berhati2, karena pada waktu itu akan terjadi banyak kekacauan di bumi pertiwi. 21 tahun berlalu sejak kepergian kakek sampai sekarang begitu banyak peristiwa2 yang telah terjadi di Indonesia ini. begitu banyak manusia2 yang berwajah dua berkeliaran di mana-mana. keliatan dari luar berwajah manusia namun mereka sebenarnya lebih mencerminkan hewan belaka.
    wayang, indonesia dan pancasila adalah satu kesatuan. sama halnya tangan, kaki, kepala, dan badan (manusia). bisakah kita memilah2nya. karena masing2 bagian itu tidak berdiri sendiri. semua saling ketergantungan.

  2. Terima kasih atas tanggapannya…
    Pada intinya, ulasan saya di atas sama seperti yg saudara ulas. Wayang, Indonesia, dan Pancasila itu merupakan sebuat kesatuan. Wayang dalam hal ini berarti filosofi kebudayaan2 lokal, Indonesia berarti orang2nya, dan Pancasila adalah ideologi (dasar, pandangan hidup, dll).

    Semoga hal ini juga dapat dirasakan dan diamalkan oleh para kaum muda Indonesia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s