Matiraga, Aksi untuk Pembangunan Jiwa

Sebelum mengenang kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, segenap umat Katolik menjalani suatu proses yang disebut dengan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang dilaksanakan selama 40 hari menjelang kebangkitan-Nya. Tujuan utama proses tersebut adalah untuk mempersiapkan diri masuk dalam misteri hidup (kesengsaraan, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus) pokok keselamatan dan andalan hidup. Selain itu, selama 40 hari pula umat Katolik juga di ajak dalam retret agung dengan cara mengikuti Yesus Tuhan kita  semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra. Retret Agung ini bertujuan untuk mengembangkan iman semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Tatacara dalam proses APP dan retret agung ini sangatlah sederhana namun membutuhkan suatu komitmen yang tinggi. Cara yang dilakukanpun saya rasa mirip dengan yang biasa orang Jawa lakukan, yaitu dengan bermatiraga dengan kata lain berprihatin. Sikap prihatin atau bermatiraga tersebut dengan tujuan untuk berinstropeksi diri, kemabali mengumpulkan pengalaman-pengalaman masa lalu yang kemudian diolah apakah berdampak baik atau tidak ke dunia, serta apa tindak lanjutnya, dan hal ini disebut retret. Kemudian, sikap matiraga yang dipakai atau dianjurkan oleh Gereja Katolik yaitu dengan cara berpuasa dan berpantang. Cara berpuasa dan pantang ini sedikit unik dengan puasa yang lazim kita kenal, apalagi ditambah dengan istilah pantang.

Puasa orang Katolik yaitu dengan ‘makan satu kali kenyang’ namun biasa disebut ‘makan kenyang sekali’, penyebutan yang makan kenyang sekali tersebut ternyata seringlah disalah tafsirkan. Karena ada yang menafsirkan sehari hanya makan sekali dan kenyang, tetapi juga ada yang menafsirkan sehari makan beberapa kali namun yang kenyang hanya satu kali. Sebenarnya istilah yang tepat adalah istilah pertama yaitu makan satu kali kenyang. Sesuai dengan istilahnya, maka puasa orang Katolik adalah dengan cara makan sehari cukup satu kali saja dan kenyang. Dengan cara puasa demikian maka terlatihlah suatu manajemen waktu dan energi yang ada dalam tubuh ini, dan dapat merasakan kehidupan sesama umat manusia yang sering hanya makan sekali dalam sehari. Maka, selain manajemen waktu dan energi didapat, dengan ini juga dapat berlatih untuk selalu bersyukur dan ingat bahwa masih banyak orang yang berkekurangan dan membutuhkan bantuan. Puasa ini dijalankan minimal pada hari Rabu Abu (40 hari sebelum paskah) dan hari Jumat Agung (wafat Yesus Kristus).

Pantang dalam Gereja Katolik adalah dengan cara menghindari kebiasaan-kebiasaan yang hanya menyenangkan kehidupan tubuh manusia, misalnya dengan makan daging, makan garam, merokok, bermain, dan sebagainya.  Tujuan dari pantang adalah untuk mengurangi tingkat ketergantungan akan hal-hal duniawi sebagai pemuas sesaat, agar memiliki kehidupan yang lebih baik secara rohani. Hal tersebut penting karena dengan mengurangi kebutuhan duniawi yang hanya pemuas sesaat maka akan lebih mudah untuk berserah diri dan bersyukur kepada Tuhan ketika terkena musibah. Pantang ini di jalankan minimal pada hari Rabu Abu (40 hari sebelum paskah dan selama 7 kali setiap hari Jumat setelah hari Rabu Abu hingga Jumat Agung)

Puasa dan pantang yang dilakukan oleh umat Katolik ini adalah keputusan dari Gereja dengan tujuan untuk membangun jiwa yang luhur, terhindar dari nafsu duniawi untuk kehidupan yang lebih baik kedepannya. Akan tetapi disini tidak adalah sanksi atau dosa jika orang tersebut tidak melaksanakannya sesuai aturan berlaku, mengapa? Hal tersebut karena aksi ini merupakan sebuah aksi pribadi yang dilaksanakan dengan janji dan komitmen yang dibuah oleh setiap individu kepada individu itu sendiri. Gereja hanyalah memberikan suatu garis-garis besar, yang dapat dijalankan apabila individu tersebut mengalami kesulitan untuk menemukan cara yang lain. Oleh sebab itu, sanksi yang diterima jika tidak menjalankannya adalah sanksi yang dibuat oleh individu itu sendiri. Ini bertujuan agar selalu bertanggung jawab dan mau untuk menerima segala konsekuensi atas pilihan yang dibuat dengan penuh kesadaran bukan dengan suatu paksaan.

Dengan demikian, aksi matiraga berupa puasa dan pantang ini akan berhasil untuk membangun jiwa-jiwa lebih baik, karena adanya kesadaran dan komitmen yang semakin timbul dalam pelaksanaannya.

Akhir kata, selamat ber-Aksi Puasa Pembangunan. Semoga kita dapat menjalankan Retret Agung ini dengan penuh hikmat, untuk mencapai suatu tatanan kehidupan yang lebih baik.

Berkah Dalem.

Satu pemikiran pada “Matiraga, Aksi untuk Pembangunan Jiwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s