Renungan Bencana #3: Sesaji itu Doa.

Malam ini, saya melihat twitt dan disana terdapat berita bahwa adanya sesaji di Tugu Jogja dan juga penyembelihan kerbau. Saya sendiri tidak tahu apakah kejadian itu benar atau tidak. Namun, yang menjadi ganjalan dalam diri saya, apakah sesaji itu didaraskan dengan benar atau hanya sebagai simbol dan ritual saja. Tetapi kalau itu dari Keraton sendiri saya masih beranggap memang didaraskan sebagai doa permohonan.

 

Bagi orang biasa, yang beranggapan bahwa sesaji yang diletakkan dipinggir jalan dan juga di tempat-tempat tertentu yang orang biasa pun mengatakan tempat “angker”, sesaji itu untuk hantu atau enunggu di daerah situ. Namun, jika kita memahami lebih dalam mengenai makna sesaji itu sendiri maka kita bisa tercengang bahwa ternyata sesaji yang berasal dari budaya kejawen yang lama memiliki makna yang saat luhur. Mengapa saya berkata demikian?

 

Jika saya boleh menjabarkan kata-kata “sesaji” sendiri itu berarti “Sesembahan kang Aji” dalam bahasa Indonesia berarti “Persembahan yang Mulia” atau jika sesaji di jabarkan dalam bahasa Indonesiapun dapat berarti “sesuatu yang tersaji”. Dalam hal mempersembahkan kita haruslah menyajikan persembahan tersebut (sesuai dengan penjabaran bahasa Indonesia) dan jika kita tujukan kepada Tuhan sang Raja Alam Semesta persembahan itu haruslah yang paling baik atau mulia (sesuai penjabaran bahasa jawa). Namun, dalam konteks ini pemahaman orang Jawa kuno sendiri mengenai Tuhan sangatlah abstrak. Orang Jawa memahami jika ada sesuatu yang sangat berkuasa dan luhur serta Esa yang hanya dapat menyiptakan makhluk-makhluk di Bumi ini. Namun, karena keluhuran-Nya, orang Jawa sendiri takut untuk meminta dan memohon kepada-Nya langsung karena mereka menganggap bahwa manusia itu sangatlah kecil dimatanya belum lagi begitu berdosa.

 

Oleh karena itu, mereka memerlukan sesuatu lain yang dapat menghantarkan permohonan kepada Dia. Merekapun menganggap para keluarga yang telah meninggal dapat menjadi perantara mereka. Kemudian mereka juga sadar bahwa segala kebutuhan mereka itu juga terpenuhi bukan karena usaha sendiri tapi karena bantuan sesuatu lain (hewan, tanaman, air, angin, dll) dan restu dari Sang Raja Alam Semesta itu. Maka, untuk bersyukur mereka memberikan sebagian dari hasil yang mereka dapat untuk dipersembahkan ke Raja Alam Semesta yang dinyatakan dalam bentuk sajian dimana mereka mendapatkan kebutuhan tersebut.

 

Misalnya:

  • Jika mereka haus, mereka akan menimba dari sumur, maka mereka menaruh sesaji di dekat sumur dan ada unsur airnya. Ini sebagi ungkapan bahwa air yang diambil dari bumi akan dan telah dipergunakan dengan bijak dan semestinya.
  • Setelah memasak, seorang juru masak menempatkan sebuah sajian masakannya (sedikit saja) di dapurnya. Berarti; juru masak tersebut mengungkapkan bahwa ia telah memasak dengan hatinya dan menyatakan bahwa ia tidak menyia-nyiakan pengorbanan dari hewan dan tanaman yang ia pakai untuk memasak.

 

Kedua hal tersebut merupakan wujud ungkapan syukur sekaligus permohonan agar esok mereka masih dapat menikmatinya kembali. Namun secara dunia nyata itu juga ada manfaatnya.

Sesaji selain ungkapan syukur juga merupakan sarana berbagi antara manusia dan hewan yang beraktivitas di malam hari, ketika manusia tidur.

  • Tikus, semut dan hewan rumah lain akan memakan sesaji itu dan tidak akan memakan makanan manusia karena mereka telah kenyang dengan sesaji itu.
  • Tikus yang berada di sawah juga tidak akan memakan padi petani dilumbung karena telah ada sesaji padi.

 

sekarang, untuk ritual tolak bala dengan menyembelih kerbau tersebut juga ungkpan syukur dan permohonan kepada yang kuasa. Kerbau yang disembelih merupakan simbol dan diikuti doa. Mengapa memilih kerbau? karena kerbau merupakan hewan yang besar dan mahal di tanah Jawa. Yang diperuntukkan untuk sesaji pun kepala kerbau, karena kepala merupakan hal yang istimewa dan sebagai simbol bahwa pemimpinpun berani untuk turun tangan demi rakyatnya. Sedangkan daging kerbau tersebut disantap bersama sebagai sarana berbaur dan komunikasi. Dari komunikasi tersebut maka mereka dapat saling bertukar pendapat untuk mengatasi permasalahan yang sedang terjadi.

 

Doa syukur dan permohonan dipanjatkan, penyelesaian masalah pun dapat diputuskan, maka point ketiga adalah tindakan nyata manusia setelah memberikan sesaji itu, apakah akan semakin menyakiti alam atau akan  bekerjasama dengan melestarikan dan menjaga keseimbangan alam.

 

Sesajii merupakan sarana doa yang sederhana namun beribu makna.

Sesaji tidaklah musrik jika kita sajikan dengan benar.

 

2 pemikiran pada “Renungan Bencana #3: Sesaji itu Doa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s