Renungan Bencana #1: Merapi Saudara Kita

Setelah mengalami dengan sendirinya bencana yang melanda kawasan di sekitar gunung teraktif, Merapi. Saya menjadi merenungkan apakah bencana inni merupakan suatu teguran, hukuman, atau ujian untuk kita semua. Dalam benak saya, kekatifan Merapi ini merupakan suatu teguran dan berkat dari Tuhan yang perlu kita syukuri, atas apa yang kita lakukan terhadap alam selama ini. Ada sebuah twitt yang membuat saya cukup berpikir dan merenung. Twitt itu berisi: Saat ini kita bukan sedang mengungsi, namun sedang memberi ruang kepada Merapi untuk mencapai keseimbangannya. Cukup singkat dan bermakna bagi saya. Manusia saja jika sedang mencapai titik jenuh, dia akan membutuhkan ruang untuk melepaskan kejenuhan tersebut. Alampun demikian, saat ini ia mencapai kejenuhan.

 

Dalam bahasa jawa, gunung Merapi dapat disebut juga Arga Merapi. dan ternyata ada makna dalam frase tersebut. ARGA MERAPI; Amarga Rusaking jaGat donyA Manungsa Eling maRAng Pangandhikanipun Illahi (Gusti). Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: “karena rusaknya alam dunia, manusia ingat perkataan Tuhan. Disini ada 1 hal yang mungkin menjadi pertanyaan yaitu kenapa kerusakan alam dapat mengingatkan kita? Pertanyaan tersebut dapat terjawab ketika terjadi berbagai bencana melanda bumi ini, maka kitapun sadar bahwa kita telah merusahnya.

 

Namun disini sebenarnya selain mengingatkan, Merapi dalam letusannya juga memberikan kita berbagai modal untuk menjadi lebih baik. Mungkin ini cukup berat untuk dipahami atau dicerna. adapun beberapa hal yang dapat kita syukuri dari bencana ini:

  • Kita (korban) menjadi sadar jika kita dicintai oleh banyak orang, tidak hanya dari daerah Merapi saja tetapi dari seluruh pelosok bangsa hingga dunia.
  • Kita (relawan) menjadi semakin tanggap dan peka dalam menghadapi setiap tingkah alam yang tak terprediksi. Menjadi memiliki waktu luang untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan yang mungkin belom pernah kita lihat dan rasakan.
  • Material dari Merapi yang keluar merupakan material berharga, terutama bagi para penambang. Mereka menjadi memiliki harapan untuk semakin miningkatkan penghasilan minimal wkatu kerja masih lama dalam menambang.
  • Kita (masyarakat pada umumnya) juga perlu bersyukur karena letusan merapi ini bertahap. Coba bayangkan jika hanya terjadi sekali letusan dengan kekuatan yang sebanding dengan akumulasi letusan-letusan ini.
  • adanya berbagai jejaring sosial dan juga web yang memudahkan koordinasi dan juga pemberian pengumuman mengenai kondisi Merapi setiap saat
  • adanya berbagai orang yang dengan suka rela dan berani untuk memantau Merapi dari dekat sehingga banyak informasi yang masyarakat dapatkan untuk lebih siaga dan berjaga-jaga.
  • sebelum letusan, para makhluk hidup (hewan) secara tersirat telah memberikan informasi tentang kondisi Merapi.

Itu semua terjadi karena masih adanya CINTA diantara MANUSIA dan ALAM serta MAKHLUK HIDUP yang lain. Oleh karena itu, mari kita jaga, lestarikan dan olah alam ini dengan CINTA, sudah banyak yang mereka berikan kepada kita (manusia) tapi sudah banyakkah yang kita berikan untuk mereka?

 

2 pemikiran pada “Renungan Bencana #1: Merapi Saudara Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s