Usaha Manusia dan Campur Tangan Tuhan

Malam ini saya mendapat sebuah tag note dari seorang dosen saya yang cukup menarik. Dalam Note tersebut beliau menganalogikan terciptanya petir sama seperti hubungan antara mahasiswa dan juga dosen. Namun, saya akan memakai analogi terciptanya petir tersebut untuk menggambarkan bahwa usaha kita tidaklah ada gunanya tanpa campur tangan Tuhan dan sebaliknya.

Demikian analoginya:

“teori terjadinya kilat/petir diawali dengan ionisasi udara akibat medan listrik dr muatan di awan… proses ionisasi negatif ini berlangsung dari atas merambat ke bawah dengan cepat… saat proses itu mendekati permukaan bumi, muatan positif yang terkumpul di bangunan/pohon akan mengionisasi udara menjadi muatan positif dari bawah dan pelan2 merambat ke atas untuk *menyambut* ionisasi negatif yang bergerak dari atas…. dan ketika kedua proses ionisasi itu bertemu, terjadilah *klaappp* *dhuuaaarrrr*…. dahsyatnya proses diatas hanya memerlukan waktu kurang dari 1 kedipan mata….”

 

Sama halnya Petir, ketika kita hendak melakukan sebuah pekerjaan yang luar biasa dan bermanfaat bagi orang banyak, ataupun untuk mewujudkan setiap impian dan cita-cita. Kita tidak bisa melakukannya seorang diri dengan mengandalkan usaha dari kemampuan kita sendiri. Karena untuk meneruskan usaha kita menjadi sebuah kenyataan yang sesuai impian tersebut, tetaplah Tuhan yang memutuskan apakah Dia mengijinkan atau tidak. Oleh karena itu dalam usaha perwujudan impian hal yang tidak boleh kita lupakan adalah doa. Melalui doa kita juga diharapakan tidak hanya meminta hasil yang baik untuk diri kita, namun juga hasil yang baik untuk kalayak umum.

 

Sama seperti halnya petir, kita selalu berusaha dan berlaku positif namun terkadang tetap ada tantangan dan rintangan, bahkan kegagalan dalam usaha tersebut. Namun, ketika setiap rintangan dan kegagalan kecil tersebut telah kita atasi dan lalui, maka keberhasilanlah yang akan terpancar dan kita dapatkan. Tuhan tidak akan langsung memberi kita makanan jika kita meminta makanan, tapi Ia akan member kita kail agar kita mampu mendapat makanan. Walau demikian, Diapun akan ikut membantu kita dalam mengkail setiap makanan yang ada hingga kita tidak kelaparan kembali.

 

Analogi yang lebih sederhana pernah saya terima dari ayah saya, beliau memakai analogi orang Jawa dalam memahami Tuhan.

“Seperti halnya seseorang yang sedang hanyut disungai, orang tersebut akan berusaha berenang dan tidak tenggelam, kemudian dari daratan ada orang lain yang juga mengulurkan sebatang tongkat kepada orang tersebut”

 

Kita analogikan orang hanyut adalah kita, umat manusia yang masih berjuang dan berziarah di dunia ini. Sedangkan si penolong tersebut adalah Tuhan.

 

Jika seorang yang hanyut tersebut tidak berusaha berenang dan tetap mengapung, maka orang di tepi tidaklah mengetahui keberadaan dan kondisi orang hanyut tersebut sehingga ia kesulitan dalam menolong. Sebaliknya, walau orang hanyut terus berenang dan berusaha mengapung namun tidak ada yang menolong dia dari tepi, maka iapun akan kehabisan tenaga dan kemudian hanyut di aliran sungai.

 

Sekali lagi, bukan hanya Tuhan yang menolong diri kita agar dapat mencapai impian, dan juga bukan karena usaha kita sendiri. Namun, usaha kita dan campur tangan Tuhanlah yang menjadikan kita mampu meraih setiap impian.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s