Ujian yang Berat part 4

Keesokannya, aku masuk sekolah dan saat itu banyak teman dari teman Agatha yang menghampiriku. “Naz, sorry ya, kemarin rencana kita gagal. Dan tidak sesuai dengan apa yang kamu harapin, sorry ya. Tapi kami tetap mau kok membantu kamu terus buat bisa deket ma dia.” Kata Guniar, seorang teman perempuan yang sering dipanggil Mama karena sifatnya yang begitu keibuan.

“Ya dah lah Gapapa lagi, aku tau koq. Dia kan emang sedang berusaha lupain aku dan ….” Kataku.

“Tidak gitu Naz, aku yakin dia tu ga bakal bisa lupain kamu.”

“iya, kamu percaya aja dia tu sebetulnya juga suka ama kamu.” Tambah temanku.

“Sudahlah, klo dia memang gak suka ma aku juga gapapa, lagipula aku cuma ingin dia tu masih nrima aku jadi temannya.” Belaku padanya.

“kami juga inginnya gitu, tapi klo bisa kami bakal lebih senang klo kamu dan dia tu bisa jadian dan kayak dulu lagi.”

“Aku juga ingin kayak gitu, tapi kan kalian tau ndiri klo dia dan jadi kayak gitu. Iya sich aku juga sadar klo aku tu yang salah. Knapa aku ga nembak dia dari dulu, knapa aku gengsi banget ma dia. Coba dulu waktu kelas  dua dia aku tembak pasti sekarang dah jadi keluarga bahagia, he3x.” Sahutku.

“Ya dah jangan ungkit yang dulu-dulu sekarang kita harus berpikir buat kedepan terlebih buat hubungan kalian berdua.” Saran Youna.

“Cip dech. Tapi kok kalian tu ingin banget sich jika aku ma dia jadian. Mpe nglakuin hal kayak kemarin. Lha terus dia kemarin tu ga marah to. Aku justru takut klo tiba-tiba dia tu marah-marah ma kalian.” Tanyaku.

“ya pertamanya sich dia marah tapi terus kami ngomong klo kami bakal ga mau jadi temannya dia lagi jika dia ga mau ketemu ma kamu saat itu.” Kata Guniar

“Oooo gitu to, lha terus kalian kanapa mau berbuat mpe kayak gini?”

“kita tu kan sayang sama Agatha. Dan kami juga gak mau klo dia tu dapat hal nuruk kami maunya dia dapat yang terbaik kayak kami dan aku pikir klo dengan memberi kamu ke dia tu merupakan hal yang terbaik buat dia.” Jelas Caka.

“iya, kami tu ingin dia bahagia. Kita kan dah hampir tiga tahun bersama to, dan kami liat dia tu sepertinya merasa bahagia jika ama kamu makanya kami ingin menyatukan kalian, geto.” Tambah Youna.

“Ow gitu to. Ya dah lah. Makasih ya atas usaha kalian selama ini.” Kataku.

Bulan terus berjalan, dan sekarang ujian telah tiba. Dan kami tetap saling membisu. Sekarang kelas mulai masuk pagi, jam 6, katanya sih untuk persiapan ujian tapi bagiku sama saja. Hidup kala itu terasa sepi, karena hati ini dingin akan cinta yang beku.

1 minggu sebelum ujian berlangsung hati ini mengajak diriku untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. Aku mulai rajin berdoa ke Goa Maria Mojosongo dan memohon petunjuk Dia agar aku mendapatkan apa yang telah kuperjuangkan dan layak bagiku menurut kehendak-Nya. Karena keyakinan diriku akan terkabulnya permohonan tadi, ujianpun aku kerjakan dengan santai.

“Hai, gimana tadi bisa kerjakan semua apa tidak?” Tanya diriku seusai mengerjakan soal ujian pada hari terakhir,  26 April 2007, pada teman-temanku.

“Ya bisa dong, tapi ga yakin sih benar semua pa gak. Lha kamu sendiri gimana Naz?” Kata teman tomboiku bernama Youna.

“Klo aku sih biasa aja, gampang sih tapi banyak sulitnya.”

“Eh habis tes kita mau kemana nih? Masa abis stres mikirin ujian kagak ada refreshingnya sih.” Celoteh teman batakku.

Ngomong-ngomong, temenku batak itu sempat melukiskan sejarah yang amat-teramat mengesankan bagi kelas kami. Sebelum latihan ujian dimulai, tepatnya sebelum tahun baru, dia bersama kelima temannya sepakat untuk potong rambut dengan model yang sama.

“Eh sebelum ujian kita kan harus menjernihkan kepala kita, gimana kalo kita potong gundul semua.” Ajak Manurung.

“Wokey, sapa takut tapi kita potong bersama ya.” Jawab Satrio dengan yakin.

“Cip, kapan kita potong?” celoteh Ian, anak pak RT.

“Besuk saja kita ntar aku mau minta uang dulu ma mami.” Saran Saga.

“Yuk, besuk ya. Kita kumpul dimana?” tanya Dipa.

“Dah kita kumpul di sekolah aja jam empat sore gimana?” bujuk Putra.

“Yoi, deal ya…”

Setelah mereka potong bersama di hari pertama mereka masuk, mereka saling menunggu di depan gerbang dan masuk kedalam kelas bersama-sama dengan mengenakan topi. Sepertinya sih mereka masih pada malu-malu menunjukkan keplontosan kepala mereka.

“Woyooo my pren-pren” teriak mereka bersama-sama untuk menghebohkan seluruh isi kelas.

“Eh rambut kalian kemana?” tanya Sari.

“Tak dol, dinggo bayar SPP. (aku jual untuk membayar SPP)” jawab Manurung.

Kehebohan dia tidak hanya sebatas itu saja. Ketika musim petasan tiba, dengan jantan dan yakinnya, dia membeli petesan korek dan dia bawa kesekolah pagi-pagi kira-kira pukul 6 pagi.

“Eh wani ra kowe ngonekke mercon ning WC? (eh berani apa tidak kamu, membunyikan petasan di toilet?)” tantang Manurung pada kelima temannya.

Dengan yakin pula mereka menjawab “Wani, ning kowe sek. (Berani, tapi kamu dahulu)”.

Manurung, dengan langkah tegapnya dan berani berjalan menuju ke tempat pembuangan kotoran manusia. Dia masuk dan kemudian membuka WC Pria paling tengah, dengan berpura-pura membuang hajat ia sulut petasan itu dan berdirilah ia untuk meninggalkan WC yang sudah ia beri petasan itu. “Krekkk….” suara pintu terbuka, keluarlah seorang lelaki dengan muka penuh jerawat, siapa lagi kalo bukan Manurung. Dia pergi dengan santai dan tiba-tiba petasan meletus “Jeduoorrrrrrrrr” bunyi itu muncul kira-kira dengan frekuensi 5.000 Hz. Manurung dengan santai tetap berjalan dan tidak menyadari bahwa seorang guru berbadan kecil sudah bersiap untuk menyentuh kuping dia atau bahasa bekennya menjewer kuping Manurung, untuk menuju ke kantor guru.

Ya begitulah ukiran sejarah yang begitu menyentuh bagi kami, dan juga bagi SMP tercinta kami. Kembali lagi ke masalah refreshing tadi.

“Gimana Klo ke Gramed, baca-baca buku gitu.” Aku memberi saran kepada mereka.

“Oke deh klo ke sana, kapan? Aku Ikut ya.” Celoteh Yohanes mendukung saranku.

“Ehm, gimana ya Naz, sebetule aku ya mau tapi kayake aku lebih suka ke SGM aja gimana?” Jawab Manurung.

“Ya terserah sih tu kan juga keinginan kamu.” Tengahi temanku.

Akhirnya kami pun berangkat ke tempat yang kami tuju sendiri-sendiri. Manurung dan Keluarga Ot-Ot memilih ke SGM, dan aku bersama Yohanes dan Edzy menuju ke Gramedia.

Ketika saya dan teman-teman saya memasuki arena buku, saya dikejutkan oleh pandangan mata saya yang melihat teman SD saya di situ.

“Heh, kok kamu disini? Lagi ngapain? Baca buku ya?” tanyaku secara tiba-tiba.

“Lhoh, kamu to Naz. Ya iya lah baca buku masa makan. Eh inget gak, ini sapa?” Celoteh Tisa

“Ehm, kalo ga salah itu Celia kan Tis. Mang kenapa?” kataku

“ga papa kok” jawab Tisa.

“ya dah ya aku mau liat-liat buku dulu.” Kataku mengakhiri pertemuan.

Ujian nasional telah terlewati, masa-masa penentuan sudah separoh jalan kami lalui. Namun kami masih menunggu rumitnya ujian dari sekolah. 19 Mei 2007, 2 hari sebelum ujian sekolah dimulai. Disaat itu aku sedang berada di kediaman kakekku yang sudah meninggal untuk memperingati 40 hari meninggalnya beliau. Disana, aku sempat di sms oleh temanku SD dahulu, Tisa namanya. Itu lho yang ngajak aku maen jaelangkung waktu SD ingetkan.

Hai, malem Naz.

Ge pa? Eh kemaren tanggal 4 Mei Celia ulang tahun lho.

Dah kamu kasih selamat belum??

Sejenak aku terdiam danmulai membalas sms dari dia

Ya dah aku titip ucapan aja 5 u, gppkan.

Btw kbr u gmn skrang?

Pesan singkat itu meluncur ke hpnya Tisa.

Okey, ntar aq smpekan ucpnnya ke u. Kabarku baik nih. Lha u ndiri gmana?

Balasan darinya tiba dan akupun menjawab.

Sma kyk u oq. Y thx y. Oy Tis, aq mw tnya. U pnya nomerna Celia pa ga? Aq mnta dong. He13.

Tanpa pikir panjang diapun membalas.

Punya sih bentar ya.

Sesaat setelah itu, nomer hp Celia tiba dan tersimpan dalam buku teleponku. Trima kasihpun aku ucapkan melalui sms kepada Tisa.

Okey, nomerna dh msk dlm phonebookq. Thx y.

Met malem & have nice dream.

GBU

Setelah aku menutup sms dengan Tisa, keberanian ini mulai muncul untuk mengirimi sms kepada Celia. Tanpa pikir panjang aku menggoda dia melalui sms.

Hai met malem, leh knalan pa ga?

Nmaq Anto, aq ank BL klo u sapa?

15 menit kemudian dia membalas.

Malem juga, leh aja oq.

Nmaq Celia aq ank SMP 4.

Kmu dpt noq dri sapa?

Akupun berbohong.

Aq Ngacak nomer oq. N trnyta sa nyambung.

Klo leh tw u dlu dr SD mana? Ge pa ne?

Dengan polosnya dia menjawab.

Aq dlu dri Marsud. Ni aq ge nnton tv. Klo kmu?

Kejujuranku mulai aku ungkapkan kepada dia.

Aq ge di kmr tduran. Lho aq dlu jga dri Marsud tu. Dlu u klas 6 ap? Klo aq 6B.

Diapun menjawab dengan kebingungan dan menyuruh aku jujur.

Lha koq sma to aq jga 6B. U spa sih? Dah ju2r aj.

Topeng ini akhirnya aku buka agar dia tahu siapa aku.

He13x. Ne aq Ignaz, Inget pa ga?

U Celia bneran tow.

Dengan marah dia menjawab.

Sialan low Naz, aq kira sapa. Ternyata u tow.

Dpt noq dri sapa? Y iylah masa Celia boongan.

Permohonan maaf atas kebohongan aku luncurkan.

Y maap, kn aq cma pgn goda u aj.

Ad deh. Eh u g marah tow.

Oy gmn kbr u skrg? Cow u spa nih?

Kemarahan dia sedikit mereda dan smsanpun berlanjut.

Kgak papa sih tapi anyel, dikerjain.

Kbarq baek2 aj kok. Aq blm pnya cow lagi, msh single.

Lha u ndiri ma sapa sekarang?

Aku mulai berusaha mendekatinya.

Sma kyak u, msih single2 aj oq.

Cos aq mesti kdluan temenq klo soal cew jadi jrg dapet.

Dlu aj aq pnah nyukai cew, tnyta tmenq jga skajadi aq ngalah aj. Trus msle pas tmenq ga da yg ska mesti aq g kbru nmbak jdine tu cew lps drq.

Kebodohanku dalam mendekati perempuan membuat dia kasihan dan bertanya kepadaku.

Duh kcian bgt sih. Ms u kgk brani nembak cew, lha trus kpan u brani?

Dengan bercanda aku membalasnya.

G tw ah. Lha u ndiri knpa blm punya? G da yg mau y. He13x. Peace bcnda doang lho.

Kejengkelan muncul kembali kepadaku namun tak dituangkan dalam sms dari dia ini.

Y g lah, yg mw tu byk tpi blum da yg srek aja di hati ini.

Akupun mulai mencoba merayu dia, untuk menjadi kekasihku.

Eh ngomong-ngomong u kn single n aq jga single gmana klo di gbung aj, jdine qt sa double. Gmana?

Kebingungan melingkupinya dan semakin heran denganku, diapun menjawab.

Eh maksudnya paan nih koq tiba-tiba u blg gtu?

Ketegasanku aku keluarkan untuk bertanya kepadanya secara langsung.

Ya u mau pa ga ma aq? He13.

Ketegasanku ternyata membuat dia semakin  heran kepadaku.

What???

Bneran nih? Ktanya u g brani?

Sms itu aku balas dengan penuh yakin jika aku ingin dia menjadi kekasihku saat ini.

Yup, bneran oq. Y sbtule pas SD dlu aq pnah ska ma u, tp kn aq blum tw u kyk ap. Gmana u mw pa ga?

Jawaban singkat muncul darinya.

Y deh . . .

Namun aku menginginkan kepastian dari dirinya.

Y deh, gmana maksude?

Dan dia menyatakan kesediaannya menjadi kekasihku.

Y, aq juga mau kok. Tpi kok u tiba2 bgt sih.

Ucapan terima kasih terluncur seiring pertanyaan dariku.

Y thx y dah mau trima aq. Tpi kok u jga mau nrima aq knapa? Kn qta kgak pnah ktemu.

Ternyata dia juga pernah menyukai daku.

Y, aq dri dlu jga ska ma u. U tu anke asyik. Eh aq tdur dulu ya, dah malem nih.

Ucapan selamat malam menutup sms saat itu.

O y, met tidur ya. Thx y dah mau trima aq.

Met Malem, met Tidur, Met Mimpi Indah.

CU n GBU.

Sms dari dia telah usai seiring jam berdetak 12 kali menandakan hari telah pagi. Malam itu, aku begitu bahagia. Betapa tidak, dalam waktu sekitar 3 jam aku telah mendapatkan sesuatu yang aku tunggu dan tak aku sadari selama ini. Dialah seorang perempuan yang sempat mengisi hatiku waktu aku SD namun rasa itu tak nampak oleh jiwa ini. Dan malam ini dia telah menjadi kekasihku, walau dengan waktu 3 jam aku pendekatan dan menembak dia setelah 3 tahun lamanya aku tidak menjumpai wajah imutnya dan suara kecilnya.

Senin, 21 Mei 2007, saat terpenting kedua dalam proses belajar SMP dimulai kembali. Kebahagiaan malam minggu, telah memberiku semangat baru dalam mengerjakan ujian. Ketegangan berkurang dan beban pikiranpun hilang. Hanya konsentrasi terhadap soal yang ada dalam benakku. Akupun dapat menempuh itu semua dengan lancar. Namun, memang tidak ada sesuatu yang mulus di dunia ini. UAS yang begitu mudah dilewati harus ditempuh kembali karena kesalahan soal.

“Anak-anak, karena terdapat kesalahan dalam pemberian soal mata uji PPKn, maka dengan berat hati sekolah kita menuntut ujian ulangan untuk mata pelajaran tersebut. Langkah itu kami ambil karena kami tidak ingin kalian mendapat nilai rendah karena mengerjakan soal yang tidak selayaknya kalian kerjakan. Jadi besok Rabu tanggal 6 Juni, kalian kemungkinan akan mengadakan ujian kembali.”

Begitulah ucapan kepala sekolahku menanggapi kesalahan pemberian soal ujian saat itu, dan apa boleh buat kami memang harus melakukannya karena itu adalah hak kami sebagai pelajar.

Rabu, 6 Juni 2007, hari penentuan kami yang kedua. Itulah hari dimana kami harus melangsungkan ujian sekolah mata uji Kewarganegaraan yang dulu salah soal. Soal yang ternyata jauh berbeda dan lebih sulit itupun kami lahap. Usai ujian, aku dan beberapa temanku berniat untuk menonton sebuah film di Solo Grand Mall. Sebetulnya saat itu aku berniat untuk nonton bersama Celia saja tapi karena aku belum pernah kencan jadi aku mengajak temanku yang bernama Destya dan Christian serta Putra dan Edzy. Siang itu kira-kira pukul 10.30 siang aku mengajak Celia untuk menonton melalui sms.

Met siang Cel, ge pa ne?

Ntar mau ga aq ajk nonton.

Balasan tiba dari dia…

Cianx juga yank,

Mau aj, Emg mw nnton jm brapa?

N nnton ap?

Ku balas dengan….

Rencanane sih aq mau nnton ”Pirate’s the Caribean”.

Jam 1 siang di GM. Gmana mau pa ga?

Tak lama kemudian dia membalas….

Mw aj sih yank.

Y dah ntar jm 1 y aku tunggu dsana.

Oy aq ngjk teman boleh tow.

Dengan bercanda aku membalasnya….

Y deh gpp oq, u ajk keluarga u skalian jga gpp oq

Asal mbayar ndiri. He13.

Y dah y mpe nti yank.

Met siang, CU n GBU.

Kira-kira pukul 11.00 kami mengakhiri percakapan melalui sms tersebut. Dan di sekolah akupun masih bersama dengan Edzy, Christian, dan Putra; sedangkan Destya saat itu berada di rumah karena sekolah kami berbeda. Akupun juga mengajak Destya saat itu melalui sms.

Siang Des, ntar u kgak ad acara tow.

Ntar jam 12 u k rmhq y, ntar qta nonton.

Ntar u nganter aq k GM.

U aq bayari oq tenang aj.

Y dh gtu aj, msle u isa bales sms ini.

Msale kagk isa smsq u bales ya.

Thx dah bilang isa.

Kemudian Destya membalasku.

Siang, naz.

Ntar ak isa oq. Tnang wae.

Jam 12 kmu ak jmput y.

Mpe ntar.

Siang itupun aku langsung memberitahu teman-temanku yang jika pacar aku juga jemputanku, maksudnya temanku SD, juga bisa. Saat itu matahari sudah mulai bergerak ke atas kepala, dan jam tanganku menunjuk jam 11.30 tepat. Akupun langsung pergi pulang untuk berganti baju dan meluncur ke Solo Grand Mall.

Jam rumahkupun sudah menunjukkan pukul 12.45 menit, namun Destya belum juga sampai di kediamanku. Dan aku hampir lupa jika memiliki janji pada pukul 1 siang tepat untuk menonton bioskop dengan Celia. Telepon rumah dekat meja makanpun aku angkat dan 6 angka aku masukkan untuk tersambung dengan nomor rumahnya Destya. Pandanganku melayang ke arah utara, menembus kaca depan dekat pintu rumahku. Nada dering telepon mulai berganti dengan suara seorang perempuan tengah baya menyambut teleponku.

“Selamat siang.” Sapa perempuan tersebut.

“Selamat siang tante, ini saya Ignaz. Destya ada?” kataku.

“Destya sudah berangkat tu Naz.”

“O ya sudah tante, terima kasih.” Telepon putihpun kembali aku letakkan pada tempatnya. Seiring nada akhir panggilan, terdengarlah olehku bunyi sepeda motor yang memasuki pekarangan rumahku dari sebelah timur dan berhenti di depan pintu rumahku.

Sejumlah langkah kaki terdengar menaiki 2 anak tangga menuju daun pintu. Ketukan pintupun mengiringi langkahku menyambut teman yang akan mengantar aku berkencan.

“Ignaz …” panggil Destya dari luar rumahku.

“Iya, bentar.” Sahut diriku.

“Ayo, berangkat sekarang apa nanti?” tanya dia.

“Ya sekaranglah, dah jam berapa ini.” Kataku sambil melihat ke jam yang menunjukkan pukul 13.00 tepat.

“Ya dah ayo berangkat.” Ajak Destya.

“Oke”

Badan ini langsung aku balikkan dan berjalan menuju tempat kedua orang tuaku.

“Pak, Bu, aku berangkat dulu ya.” Pamitku kepada beliau berdua.

“Oya, hati-hati. Dah bawa uang apa belum?” Jawab Mereka.

“Udah kok, tenang aja.” Kataku dengan tersenyum.

Seketika itu aku langsung meluncur menuju SGM (Solo Grand Mall). Disaatwaktu menunjukkan pukul 13.15, aku dan Destya telah sampai di SGM. 5 menit aku berjalan menaiki tangga, dan sampailah aku di lantai 4, tempat pacarku dan ketiga temannya menunggu sambil memainkan permainan di area bioskop.

“Hai, dah lama nunggu ya Cel?” Sapaku dari belakang tempat duduk permainan mobil.

“Eh Ignaz, kagak kok, aku baru aja sampai.” Jawabnya atas pertanyaanku.

“Iya kok, kami baru saja sampai tadi jam dua belas kurang limabelas menit.” Sela teman Celia yang bernama Tisa.

“Ow ya udah klo gitu. Dah beli tiket atau belum?” Tanyaku.

“Ya belumlah kan aku kagak tahu kamu mau nonton apa.” Jawab Celia.

“Ow belum beli tow. Ya dah beli sekarang aja ntar keburu habis lho.” Kata Destya.

“Oya yang mau ikut nonton sapa aja nih? Kagak semuanya kan?” tanyaku.

“kagak kok, Cuma aku dan Sherlie aja.” Jawab Celia.

“Amin deh, ya dah aku mau beli tiketnya dulu ya” kataku lega.

Kulangkahkan kaki ke depan, ke arah penjualan tiket nonton bioskop. Kupesan untuk empat orang, di bangku tengah namun paling pinggir. Selembar uang kertas merah jambu aku keluarkan dari dompetku dan terpegang olehku empat puluh ribu rupiah dari kasir, tanda kembali atas pembayaranku tadi. Kaki ini terayun kembali menuju tempat Celia bersama teman-temannya yang juga temanku.

“Hai, ni tiket berempat; aku, Destya, kamu, dan temanmu satu.” Kataku. Kemudian kami pun mulai menunggu film ditayangkan. Sekitar setengah jam kami lalui, dengan mengobrol dan minum di food court. Kamipun langsung beranjak pergi ke tempat studio bioskop dan menonton film dengan judul Pirates of Carribean. 2 jam telah berlalu, suasana gelap dan dingin telah kami lewati. Belasan cahaya kuning menyilaukan membuat kami beranjak dari kursi dan pergi ke luar bioskop. Itu saat pertama bagiku untuk berjalan berdua dengan kekasih, sehingga membuat diriku menjadi sedikit tahu tentang artinya pacar monyet. Kenapa aku mengetik demikian, karena bagiku aku belum pantas berpacaran saat itu. Dan rasa yang aku rasakan hanayalah rasa suka belaka bukan suatu cinta yang mendalam. Setelah aku merasakan rasanya berdua dengan nya, aku baru sadar akan ketiga temanku yang seharusnya ikut menonton bersamaku tadi. Mereka adalah Cristian, Putra, dan Edzy. Kemudian aku menghampiri mereka dan berkata

“ Eh sory ya,tadi aku kelupaan kalian, hehehe”.

“ Heh, dasar kau itu keasyikan pacaran saja, kami di lupakan!” kata Christian.

Saat itu saya merasa sangat bersalah pada mereka semua, maka dari itu saya menonton film lagi tetapi dengan judul “ MALAM JUMAT KLIWON”.

Tibalah hari dimana titik balik kami di tentukan. Pengumuman Ujian Nasional tingkat SMP. Hari itu merupakan hari yang cukup menegangkan buatku dan teman-temanku, terlebih bagi mereka yang sudah di terima di SMA favorit. Sebetulnya kekhawatiranku bukan hanya soal kelulusan diriku, namun juga tentang kelulusan Agatha. Apakah dia lulus dengan hasil yang baik atau tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s