Ujian yang Berat part 1

Akhirnya aku naik kelas juga, yah kami sudah di bangku kelas 3. Tak disangka waktu berjalan dengan cepat. Dan disini kami semua merasakan kebahagiaan yang luar biasa, kami semakin kompak satu sama lain dan kami juga di asuh kembali oleh wali kelas kami sewaktu kelas satu dulu. Sangat menyenangkan. Tapi di sini kami juga harus bekerja extra, karena ujian segera dimulai.

Agustus 2006, bulan kemerdekaan Indonesia dan juga bulan pertama bagiku dalam menyatakan cinta. Yah, waktu itu aku bermaksud menembak dirinya. Sms, media yang kupilih. Malam itu aku mengirimi dia pesan singkat yang cukup banyak.

Hai, met malem. Aku mau ngomong sesuatu ma kmu.

Sebetulnya dari dulu aku ingin mngatakan hal ini, namun aku malu untuk mengatakannya padamu. Sebetulnya dari dulu aku telah menyukai, bahkan sekarang akupun jatuh cinta kepadamu. Jangan ketwa y, ini serius.

Sudah lama aku mencintaimu dan katakan hal ini. Tapi ku tahu, kmu telah menyukai cowok lain ato kmu justru dah punya cowok, y kan. Tapi kuharap kmu tetap mau mnrima cinta tulusku ini.

Selamat tidur Agatha, moga mimpi indah ya.

Yah, seperti itulah sms dariku untuk dirinya. Sebetulnya saat itu aku tidak bermaksud untuk menembak dia. Aku hanya ingin dia tahu perasaanku padanya. Esoknya dia membalas hingga 3 kali sms yang berisi “SERIUS???”. Sms itu aku hiraukan begitu saja. Bodohnya diriku, kenapa aku tidak menembak dia langsung. Aku malah memilih diam dan pura-pura tak tahu apa-apa.

Mulai saat itupun dia menjadi mendiamkan aku. Aku tak tahu mengapa dia berbuat seperti itu. Setiap aku dekati dia justru berusaha menjauh. Berpapasanpun, aku tak disapanya seperti dulu. Kesedihan dalam diriku mulai muncul. Belajarpun sulit bagiku, hanya dia yang terpikir dalam benakku.

2 minggu setelah itu, temannya yang bernama Isabela, yang juga dekat denganku rumahnya berkata padaku.

“Ig, kamu mau ga duduk ma Agatha. Sebentar aja, katanya dia mau ngomong ma kamu.”

“dia mau ngomong apa?”

“ga tau juga. Mau pa ga kamu?”

“ya deh aku mau. Tapi ntar aja ya, abis istirahat n pas pelajaran PPKn.”

Kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku. Dan setelah istirahat, tepatnya sebelum pergantian jam pelajaran PPKn. Akupun duduk bersama dirinya. Diam. Hanya diam yang pertama kami lakukan. Sambil menulis apa yang dijelaskan guru, aku meliriknya dari samping. Sungguh manis dirinya.

“Apa aku pantas menjadi cowoknya?” benakku bertanya.

“Bodohnya aku, mencintai orang yang lebih dari aku? Sudah tidak adakah cewek lain yang sama manisnya dan sama dengan dia??” hatiku berseru. Seriusnya dia dalam mencatat mulai menggodaku.

“Ayo, tembak dia, kamu cinta kan ma dia.” Kata hatiku.

“Jangan, kamu masih terlalu kecil untuk bercinta.” Seru hatiku yang lain.

“Ayolah gapapa koq Ignaz. Lihat bibirnya yang manis, betapa manisnya jika engkau mencium dia. Cepat tembak dia dan rasakan kemanisan itu.” Bujuk hati anehku.

“TIDAKKKKK. Sadar Ignaz, kamu belum saatnya berbuat itu.” Teriak hati kecilku.

Perang antar hati itu terus berjalan hingga dia menoleh dan berkata padaku.

“Ignaz” panggilnya.

“Sorry, untuk saat ini aku belum bisa. Gak papa kan.” Katanya dengan lembut padaku.

“Oh, Ga papa koq. Santai aja.” Jawabku dengan pelan.

“Dah biasa lagi, . . .  aku kayak gini” tambahku lirih, mungkin hanya aku yang mendengarnya sendiri.

Setelah ia berkata demikian, dada ini serasa mendapat hantaman berat. Terasa perih. Tangisan hatipun tak dapat terhindar. Aku hancur, remuk, tak berarti. Itulah yang kurasakan saat itu. Cinta yang telah tumbuh dan berkembang ini, ternyata tak diterimanya. Keputusasaan, itulah yang terjadi dalam hatiku. Tapi, aku tetap berusaha menarik senyum lebar, ketika teman-temanku meledeki aku bersama dia.

“Mbojo wae ning mburi, eling pelajaran. (berduaan aja di belakang, ingat pelajaran)” Kata temanku yang duduk di depan.

“Hayo tanganne ngapa kuwi?(hayo tangannya kenapa itu)” celoteh anak lain.

Hanya senyuman yang dapat kuberikan pada mereka, karena aku tak mau mereka tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Jam pelajaran PPKn ini, kuhabiskan bersama dengan orang yang ku cinta dan yang telah menyayat-sayat hatiku ini. Tidak ada kata lain yang terucap lagi, kami hanya diam. Akupun menjadi teringat satu tahun lalu, ketika pelajaran Fisika. Yah, waktu itu guruku menyuruh kami duduk berpasangan, dan kami bebas memilih pasangan. Agathapun langsung mengajakku duduk bersama. Dan 1 hari pada jam itu kami duduk berdua canda tawa terus terjadi. Dia terus menggangguku ketika aku mencatat. Hingga gurupun melarang kami untuk duduk bersama kembali. Tapi, kali ini berbeda, bukan canda tawa yang ia perbuat. Sayatan lebarlah yang ia kerjakan pada diriku. Huff. Hatiku lelah.

Tragedi hari itu telah berlalu, kuusahakan lupakan masalah itu. Tapi sulit bagiku. Dia terlalu mahal dan berharga jika kulenyapkan dari jiwa ini. Dialah yang telah membuat hidupku berarti. Dan dialah yang telah membuat hidupku terluka. Aku memilih menyimpan luka itu dalam-dalam. Mungkin esok hal itu dapat berguna bagi hidupku.

Hari-haripun mulai aku coba jalani seperti biasa, walau tetap ada bayang-bayang dia di benakku. Ku coba untuk kembali berteman dengannya seperti dulu lagi, aku tak bermaksud untuk merayu ataupun memaksa dia menjadi milikku. Teman baik, pandanganku terhadapnya ketika itu. Tapi, aku bingung. Mengapa sikap dia justru berubah terhadapku, hingga satu minggu kemidian Isabela dan beberapa temnnya menghampiriku.

“Naz, ntar sepulang sekolah Agatha mau bicara ma kamu.” Kata Isabel yang ditemani Sari dan Youna

“Bicara apa Bel?”

“gak tau tu, yang jelas ntar kamu di tunggu dia di depan perpustakaan. Jangan lupa lho” kata Youna.

“Okey deh, ntar klo ga lupa.”

“ya jangan lupa no, piye lho kowe’i (gimana lho kamu itu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s