Kehidupan pengais rejeki malam dan pagi hari

Ternyata suasana dalam kereta bisnis sangat berbeda dengan di kereta eksekutif, disamping udaranya lebih panas, dan ramai di kereta bisnis kita juga dihadapkan dengan kenyataan kehidupan sosial yang cukup beragam. Mulai dari penjaja makanan, minuman cepat saji, jual oleh-oleh khas daerah setempat, bahkan ketika pagi hari ada yang mengemis di dalam kereta. Ironis memang, namun itulah realita kehidupan yang sering kita jumpai di tengah gemerlap cahaya kemewahan kota.

Yang membuat saya kagum, heran juga sih, ternyata para pengais rejeki tersebut bukan saja kaum pria muda yang menjadi pengangguran atau bapak-bapak, namun juga para ibu-ibu dan anak-anak. Tengah malam ketika kereta transit di sebuah stasiun, mereka mulai naik dan berkeliling ke gerbong-gerbong untuk menawarkan barang dagangannya. Tidak ada kata lelah yang terlontar dari mulut mereka, tapi desahan kelelahan tersebut tetaplah terlihat, dari cara bicara ataupun raut muka. Kegigihan, keuletan dan keberanian mungkin itu modal mereka, bahkan hingga rela terbawa kereta hingga stasiun berikutnyahanya untuk menjajakan secangkir kopi ataupun mie instan.

Kemudian, ketika tiba di stasiun tujuan. Ada hal janggal yang saya temui disini. Beberapa anak muda tiba-tiba masuk dan membersihkan gerbong dengan diikutioleh temannya yang berdiri di belakang dia dengan meminta belas kasihan penumpang kereta. Selain itu, yang aneh lagi ada yangmasuk membawa pewangi dan langsung menyemprot ke kolong tempat duduk dan memintai uang jasa ke penumpang. Tapi juga ada yang seperti penjual betulan, seseorang masuk membawa barang dagangan dan langsung membaginya di setiap tempat duduk dan ia kembali dari depan memintai bayaran. Seperti sebuah paksaan memang namun demikianlah mereka mencari uang. Namun juga agak aneh, kenapa justru kereta bisnis yang menjadi sasaran mereka. Kereta yang tidak banyak ditumpangi oleh mereka yang mampu, melainkan ditumpangi oleh orang yang relatif berekonomi menengah kebawah.

Bekerja untuk mencari sesuap nasi memanglah sulit, apalagi jika sudah berada di kota besar. Lapangan pekerjaan semakin kecil sedangkan jumlah orang yang produktif semakin banyak berdatangan. Akhirnya mereka bekerja seadanya dan berat pula hanya untuk makan setiap hari. Sesungguhnya jaman sekarang bukan jamannya lagi orang mencari pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan. Bukan jamannya orang berduyun-duyun ke kota untuk melamar kerja, namun mengembangkan daerahnya dengan kemampuannya. Jika hanya kekuatan fisik yang ada, dapatlah ia menjadi buruh di daerahnya kemudian menyerap beberapa ilmu dari perusahaan dan menabung untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Hidup adalah perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s