Di Kebun Bisa, Kenapa di Kelas?

JAKARTA, KOMPAS.com – Teknologi semakin cepat berkembang di era globalisasi, terutama yang berbasis internet. Pesatnya perkembangan tersebut bukan hanya di bidang industri, melainkan juga dunia pendidikan yang terus memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi.

“Ini gaya belajar baru untuk anak-anak muda. Sudah tidak jaman lagi duduk di kelas mendengarkan guru, siswa mudah bosan dan mengantuk.”
— Harjanto Prabowo

Hal tersebut diungkapkan Rektor Universitas Bina Nusantara (Binus) Harjanto Prabowo di sela seminar Principal Wisdom Update, di Kampus Binus, Jakarta, Rabu (4/08/2010). Acara seminar tersebut mengetengahkan tema menambah wawasan mengenai metode E- learning di sekolah-sekolah.

“Sebut saja E- learning sebagai proses belajar mengajar yang tidak mengharuskan siswa duduk diam di kelas mendengarkan gurunya mengajar. Ini merupakan gaya belajar baru untuk anak-anak muda, sekarang sudah tidak jaman lagi duduk di kelas mendengarkan guru, karena menyebabkan siswa mudah bosan dan mengantuk,“ kata Harjanto.

Menurutnya, fokus dan tujuan metode E- learning adalah kemudahan proses belajar mengajar di era global saat ini. Hanya, untuk masuk dan menyelami era global tidaklah mudah, karena semua yang masuk dalam dunia pendidikan harus diubah mind set-nya ke pemikiran yang juga global.

“Interaksi antara guru dan siswa tetap berjalan, tatap muka secara conference online juga bisa dilakukan, ini memang perubahan yang begitu cepat dan harus terpenuhi. Tetapi, E-learning bisa dilakukan secara fun, karena di kebun pun kita bisa belajar,” ujarnya.

Sementara itu, Debby Tanamal, Director of Widia Center of Excellence For Teaching and Learning, yang juga menjadi pembicara di seminar itu mengatakan, E-learning di sekolah di Indonesia sudah mulai diterapkan meskipun tidak bisa disamakan di luar negeri. Proses belajar-mengajar yang tidak mengharuskan para murid duduk diam di kelas dan mendengarkan guru ini sebetulnya tidaklah rumit.

“Yang terpenting dari E-learning adalah materi, tools yang mendukungnya, serta tim yang solid dan mengerti tentang teknologi, barulah pembelajaran ini bisa berjalan,” ujar Debby kepadaKompas.com, Rabu (4/8/2010) di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s