AKHIR JAMAN, PERMULAAN KEHIDUPAN BARU

by Radian

Akhir-akhir ini, banyak orang yang menggumamkan soal hari kiamat. Persoalan tersebut pada awalnya hanya bermula dari suatu temuan mengenai penanggalan bangsa Maya yang berakhir pada tahun 2012. Pada dasarnya, penanggalan bangsa Maya tersebut hanya terdiri dari 13 baktuns (suatu siklus yang dimulai dari tahun 3113 S.M. hingga tahun 2012). Perdebatanpun mulai bermunculan tentang makna sebenarnya penanggalan tersebut, apakah akan terjadi kiamat atau tidak. Tidak sedikit pula orang yang menjadi ketakutan akan isu kiamat yang terus beredar di masyarakat hingga bermunculan Film 2012 yang bercerita mengenai kiamat.

Bagi kita pengikut Kristus atau orang Nasrani, sebenarnya ketakutan semacam itu menunjukkan masih kurangnya iman kita terhadap Tuhan Raja Semesta Alam. Mengapa saya berkata demikian? Karena sesunggahnya segala hal mengenai akhir zaman telah tertuang dalam kitab suci. Dan di sana pula juga telah di jelaskan bagaimana bumi ini akan hancur. Namun, selain bumi yang hancur kita yang terpilih oleh-Nya juga dijanjikan suatu tempat yang baru (bdk. Mark 13:24 – 26).

Sekarang ini kita hidup dalam suatu ketidakpastian, beberapa masa yang lalu sikap jujur mampu membawa kita ke tempat yang aman, kemudian masa itu mulai berganti bahwa uang segalanya, tapi bagaimana sekarang? Dari ketidakpastian tersebut ternyata manusia masihlah memiliki satu hal yang pasti yaitu datangnya kiamat, akhir zaman atau Imam Mahdi. Dan berbahagialah kita orang Kristiani, karena kita telah dijanjikan suatu tempat atau bumi yang baru oleh Sang Putera sendiri (bdk. Yoh 6:39 – 40).

Namun pertanyaannya sekarang, apakah kita dengan mudah akan mendapatkan janji tersebut? Tentu saja tidak, hanya orang terpilihlah dari seluruh belahan bumi yang akan mendapatkannya. Lalu bagaimana agar kita terpilih? Dengan mengikuti Yesus. Mungkin begitulah jawaban singkat yang akan terlontar dari mulut kita. Namun, tidak semudah itu pada kenyataannya. Yesus sendiri berkata; “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54). Pernyataan Yesus tersebut sangatlah sulit kita cerna. Makan daging dan minum darah-Nya, bagaimana mungkin? Disinilah kita harus mendalami makna itu sesungguhnya.

Saya akan mencoba menjelaskan maksud itu, sesuai dengan yang saya pahami. Jika kita makan tentunya makan tersebut akan menjadi daging pada kita, menyatu dan sebagian berubah menjadi suatu energi pada kita. Dan jika kita minum, minuman tersebut juga akan terserap oleh tubuh kita karena sebagian besar tubuh ini dari air. Kemudian disini Yesus memakai perumpamaan ‘daging dan darah’, mengapa demikian karena daging dan darah merupakan gambaran yang paling mudah dari bagian tubuh ini yang dapat di makan dan diminum, tidak hanya itu karena Ia juga dengan tersirat memberitahukan bagaimana Ia akan wafat.

Lalu dalam mengikuti Yesus yang pertama kita harus dapat menyatu dengan Dia. Menyatu dalam pola pikir tentunya. Terus, bagaimanakah pola pikir Yesus itu? Pola pikir Yesus yang paling sederhana dan langsung tersurat di kitab suci. Yesus mengatakan bahwa kita haruslah berinstropeksi terhadap diri kita sendiri sebelum menghakimi orang lain (bdk. Yoh 8:1 – 11). Satu hal saja yang kita perjuangkan namun itu sangat sulit, yaitu instropeksi diri. Kita sering kali mengatai orang lain bahkan menghakimi orang lain mengenai apa yang mereka perbuat hingga kita mungkin menyatakan orang lain berdosa. Padahal sesungguhnya dosa atau tidakkah seseorang hanya Tuhan dan dirinya yang tahu, orang lain tidak. Yesus sendiri dalam peristiwa tersebut juga tidak menyatakan bahwa dirinya bebas dari dosa, oleh karena itu Ia tidak melemparkan batu ke wanita yang berzinah tersebut. Dapatkah kita selalu sadar untuk berinstropeksi diri dalam situasi semacam itu?

Kemudian yang kedua sebagai pengikut-Nya kita harus dapat mengikuti pola hidup Dia. Secara umum itu dapat kita lihat dalam kehidupan para biarawan/biarawati yaitu dengan hidup sederhana salah satunya. Namun itu saja tidak cukup.  Bahkan dengan mentaati kesepuluh Perintah Allah itu juga tidaklah cukup. Karena setiap pengikut Yesus haruslah mampu meninggalkan hal duniawi dengan berderma kepada mereka yang membutuhkan (bdk. Luk 18:18 – 23). Lalu bagaimana dengan orang miskin yang untuk makan saja susah? Orang miskin memang susah jika membagikan harta bendanya tapi mereka mudah membagikan hati untuk kebahagiaan sesama. Hal duniawi tidaklah berarti uang atau harta benda, namun juga nafsu, iri hati dan sebagainya. Orang yang mampu mengurangi bahkan menghilangkan nafsu dan iri hati berarti ia tidak terpancang akan hal duniawi. Selain itu, kita juga harus mampu untuk mensyukuri apa yang telah ada dan terjadi kepada kita dan berpasrah diri, karena Yesuspun selalu bersyukur dan menyerahkan apa yang ada kepada Bapa-Nya.

Kembali kepada topik mengenai “Akhir Jaman, Permulaan Hidup Baru”, jika kita telah dapat menjalankan minimal kedua hal yang saay sebut kan di atas maka dalam setiap melangkah di kehidupan kita akan mulai merasakan suatu suasana kedamaian dan kebahagiaan.  Dan suasana tersebut merupakan suasana impian yang selalu kita doakan dalam doa Bapa Kami, “… jadilah di Bumi seperti di Sorga…”. Kita selalu mengharapkan apa yang terjadi di Sorga, kedamaian dan kebahagiaan, hadir dan terjadi di dunia.

Sungguh suatu kebanggaan tersendiri jika kita selalu merasakan suasana itu. Suasana dimana ketentraman selalu ada. Dan jika kita telah merasakan itu berarti kita telah mencicipi sedikit apa itu Sorga serta pikiran kita akan Akhir Jaman tentunya mulai pudar. Bagi saya pribadi, setiap orang mati itu akan menuju Sorga, tetapi jalan yang dilaluinya berbeda. Semakin ringan beban pikiran kita semakin singkat pula jalan yang kita tempuh. Dan di Sorga itu merupakan suatu kehidupan yang baru. Kasarannya, jika kita mempunyai hutang di bumi tidaklah mungkin kita akan terus di tagih di Sorga.

Sesungguhnya penggambaran Sorga juga telah di lukiskan dalam kitab Kejadian, dimana manusia pertama dengan leluasa mengambil secara bebas apa yang mereka butuhkan dan mampu berinteraksi dengan berbagai ciptaan tanpa ada suatu batasan dengan pikiran yang masih suci dan bersih (bdk Kej 1:1 – 31; 2:1 – 25).

Kemudian, tentang penggambaran akhir jaman selain tertulis dalam injil juga tertulis dalam kitab Wahyu. Namun, cukup sulit dalam menjelaskan isi dari kitab tersebut karena memerlukan pengetahuan Sejarah dan juga filosofi saat itu. Namun yang jelas di sana juga telah di terang kan bahwa Ia akan segera datang menjemput kita (bdk. Why 22:12 – 21).

Akhir Jaman kita akan di jemput-Nya seperti yang di lukiskan dalam kitab terakhir di Alkitab kemudian kita akan di tempatkan di Sorga seperti yang di lukiskan dalam kitab terawal di Alkitab, maka memanglah benar  jika Akhir Jaman adalah permulaan kehidupan baru. Itu karena pada akhir jaman kita akan di jemput dan diletakkan di tempat yang baru untuk memulai kehidupan baru pula.

“Dia adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”

Iklan

Satu pemikiran pada “AKHIR JAMAN, PERMULAAN KEHIDUPAN BARU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s