Musibah Itu Anugerah

Sabtu, 2 Agustus 2008 di senja hari. Badan mulai letih seusai latihan persiapan Upacara Hari Kemerdekaan RI. Dan saat itu aku harus mengantarkan seorang temanku sekaligus pelatihku pulang. Jalanan cukup ramai, karena saat itu waktu pulang kerja. Jam setengah 6 sore kira-kira.

Seusai mengantar temanku dengan selamat, aku langsung memacu sepeda motor ini untuk pulang. Jalan yang yang aku lalui seperti biasanya. Namun, saat itu aku lupa jika jalan tersebut telah di persiapkan untuk area pasar malam. Jalan mulai di tutup setengah dan kami, para pengendara, harus saling berbagi.

Perasaan ini mulai tidak enak, kendaraan di depanku adalah bus besar, belakangku banyak sepeda motor, sisi kanan telah tertutup sedangkan sisi kiriku adalah jalan kereta api. Tiba-tiba saat itu bus di depanku mengerem, akupun membelokkan motorku ke sisi kiri dan tak kuduga di depanku ada mobil SUV yang lumayan besar. Aku mulai memasuki jalur kereta api.

Beberapa saat kemudian aku mulai membanting setir ke kanan, untuk kembali ke jalur beraspal yang lebih baik. Namun, rodaku mulai selip dengan rel kereta, jadi aku kembali ke jalur kereta. Aku coba untuk kedua kalinya, dengan posisi motor lebih agak memotong rel. Dan aku kembali terselip kembali. Motorku mulai bergoyang kekanan dan kekiri tak terkendali hingga suatu saat kusadari aku telah terjatuh.

Tanpa pikir panjang aku mulai berdiri. Disitu ada seorang bapak yang berhenti dan hendak menolongku, tapi tanpa pikir panjang aku menolaknya karena aku pikir hanya lecet yang ku derita. Motor kembali aku hidupkan dan siap untuk pulang. Namun, aku melihat ada noda merah di jari tengah tangan kananku. Ku mulai teliti apa noda itu. Ternyata itu hanya darah, pikirku singkat. Tetapi setelah au cermati ternyata kukuku hampir lepas dari jari itu, tinggal satu sisi yang melekat.

Terlihat olehku pos satpam yang mengawasi area itu, dan kudatangi tempat itu. Dengan santai aku menanyakan letak kamar mandi di sana. Mungkin karena gelagatku yang aneh, kedua penjaga itu mulai menanyakan apa yang terjadi padaku. Dan aku menceritakan kejadiannya.

Tak lama setelah aku membersihkan luka dan mengeluarkan darah kotorku, ada seorang pemuda yang mendekati aku dan menawarkan bantuan untuk memotongkan kuku ini agar mudah diobati. Dengan ragu aku mulai mempersilahkan dia.

Selesai memotong kukuku dan aku bersihkan jari ini di air mengalir, pemuda itu bercerita kepadaku cukup singkat. Dia bercerita bahwa sewaktu di desa kuku ibu jari kakinya itu juga pernah lepas, dan lepasnya itu karena terkena pacul saat ia dan temannya bekerja.

Semenjak itu aku mulai belajar selalu bersyukur atas apa yang aku terima karena kecelakaan yang aku terima tidak seberapa parahnya dibanding yang pemuda itu terima walau sama-sama kehilangan sepotong kuku. Selain itu dengan adanya musibah diatas aku mulai semakin berhati-hati dalam berkendara.

“Sebuah musibah terjadi bukan untuk ditangisi tetapi untuk diambil hikmahnya, dan hikmah itu merupakan anugerah dari pencipta.”

2 pemikiran pada “Musibah Itu Anugerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s