PENDIDIKAN dari SUARA HATI

Setiap individu atau makhluk hidup memiliki nurani yang berbeda-beda. Nurani tersebut muncul ketika makhluk itu sudah terbiasa melakukan segala sesuatu yang sama secara terus menerus. Seperti halnya makhluk hidup yang lain manusia juga memiliki nurani yang sering kita sebut dengan suara hati. Suara hati merupakan suara yang kita dengar dan dari dalam diri kita. Suara itu selalu kita anggap benar jika kita ingin melakukannya. Suara hati merupakan cermin dari kepribadian kita sesungguhnya. Ada orang yang mengatakan bahwa suara hati itu bersifat baik atau positif, namun ada yang mengatakan ia bersifat seperti yang dipercayai oleh orangnya (yang mendengar suara hati tersebut). Suara hati adalah kemampuan orang untuk membedakan mana yang baik dan benar atau sebaliknya, serta diarahkan untuk selalu mengambil keputusan yang paling baik dan benar.

Suara hati dapat kita kita dengar atau rasakan apabila kita selalu dapat mengintropeksikan diri kita sendiri atas apa yang telah kita lakukan. Kita juga harus peka terhadap segala gejala yang menimpa diri kita dan tetap berpegang pada norma baik budaya, adat, sosial dan agama kita.

Pada tahun 1963, dalam ensiliknya yang berjudul “ Pacem in Terris “ Paus Yohanes XXIII menegaskan bahwa “ Sang Pencipta dunia telah mencamkan ke dalam hati sanubari manusia suatu tata moral, yang diwahyukan kepadanya, yang suara hatinya dengan tegas menyuruhnya untuk mentaatinya ” (PT 5). Dalam kalimat diatas sebetulnya sudah dapat diketahui bahwa suara hati sudah dimiliki oleh setiap orang. Namun bagaimana caranya kita mendengar dan melakukan tindakan berdasarkan suara hati tersebut. Caranya memang dapat mudah dan sulit, tergantung bagaimana kita melakukannya dan niat kita untuk mendengarnya. Caranya yaitu dengan selalu berbuat sesuai norma yang berlaku, peka terhadap kejadian sekitar, intropeksi diri dan berbuat sesuai dengan apa yang yakini itu benar baik menurut diri kita dan orang lain.

Sikap kita terhadap suara hati dantara lain kita harus mentaatinya dan juga melakukannya. Namun dalam ensilik yang ditulis Paus Yohanes Paulus II, berjudul “ Veritatis Splendor “ juga ditegaskan bahwa “ Suara hati, sebagai penilaian atas suatu perbuatan, tidaklah luput dari kemungkinan untuk keliru “ (VS 62). Oleh sebab itu kita juga harus mempertimbangkan akan apa yang sanubari kita katakan.

Pada tahun 1965, dalam dokumen Konsili Vatikan II yang berjudul “ Gaudium et Spes “, para pemimpin gereja menegaskan bahwa: “ Suara hati itu selalu menyerukan … untuk mencintai dan melaksanakan hal yang baik dan menghindari hal yang jahat. Bilamana perlu, suara hati itu menggemakan dalam lubuk hatinya ‘lakukanlah ini, elakkanlah itu’. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; disana berada bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya. Berkat hati nurani dikenalilah secara ajaib hukum … cinta kasih terhadap Allah dan sesama … Semakin besar pengaruh hati nurani yang cermat … semakin orang berusaha mematuhi norma – norma moral yang obyektif. Tetapi tidak jaranglah terjadi bahwa hati nurani tersesat, maka ketidaktahuan, … (atau karena) ketidak pedulian untuk mencari hal yang benar serta baik, dan karena kebiasaan berdosa “ (GS 16). Dari kalimat tersebut kita tahu bahwa hati nurani berperan penting dalam diri kita. Misalnya dengan suara hati kita dapat berbuat: cinta kasih, perbuatan baik, memilah suatu masalah, mematuhi norma-norma moral yang obyektif, dan kita juga dapat tersesat oleh sura hati bila salah memahaminya.

Dengan melakukan tindakan yang berdasarkan suara hati dengan benar dan baik. Maka tindakan itu akan berdampak bagi kita baik diri sendiri atau orang lain. Dampak tersebut mungkin dapat menguntungkan atau merugikan kita tergantung apa yang kita pahami akan suara hati kita. Dampaknya antara lain: kita dapat lebik berani dalam mengambil keputusan, disegani orang, tidak giyah terhadap ajakan yang menyesatkan, tidah gelisah setelah mengambil keputusan dan menjalankannya, dan masih banyak lagi.

Ajaran agama Katholik tentang suara hati, dapat kita lihat di berbagai kutipan kitab, dokumen ataupun ensilik-ensilik. Akan tetapi secara garis besar dapat kita lihat pada ensilik Paus Yohanes Paulus II yang berjudul “ Veritatis Splendor “. Disana ditegaskan bahwa : penilaian suara hati adalah suatu penilaian prkatis, suatu penilaian yang membuat orang mengetahuihal yang harus dilakukannya dan hal yang tidak boleh dilakukannya (VS 59); penilaian suara hati mempunyai corak mewajibkan, maka manusia harus bertindak sesuai perintahnya (VS 60); kebenaran mengenai kebaikan dikenal secara praktis dan konkret melalui penilaian suara hati (VS 61); suara hati sebagai penilaian atas suatu perbuatan, tidaklah luput dari kemungkinan untuk keliru (VS 62).

Namun, berhubung pembahasan kita dalam pendidikan yang didasari suara hati. Maka kita juga dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam pendidikan suara hati sangatlah diperlukan, karena tanpa suara hati kita tidak akan berkembang menjadi lebih baik dan maju. Dan sebaliknya dengan pendidikan pula suara hati kita juga akan menjadi lebik tajam atau peka terhadap suatu keputusan dan keadaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s