Berbagi 5 Roti dan 2 Ikan dalam Lingkup Persahabatan

Dalam Lukas 24:13 – 21; 28 – 35 kita diperlihatkan secara abstrak tentang makna dari Ekaristi. Ketika dua orang dalam perjalanan ke Emaus, muncullah Yesus ditengah-tengah mereka dan terjadilah kegiatan yang mencerminkan pewartaan kabar gembira atau sering kita sebut ibadat sabda pada saat sekarang. Pada saat hari mulai gelap dan Yesus berkenan untuh singgah di rumah atau tempat dimana mereka tinggal, Yesus mulai menampakkan kemuliaan-Nya dengan mengadah kelangit dan memecah-mecah roti. Itulah yang sekarang kita sebut dengan Ekaristi, dimana kita mengenang saat-saat Yesus membagi-bagikan roti dan anggur kepada murid-murid-Nya.

Dalam perayaan Ekaristi, bukanlah kegiatan pembagian roti dan anggur yang kita tunggu-tunggu, namun kegiatan ketika kita mulai dapat memaknai arti dari liturgi tersebut. Dalam Ekaristi, kita diajak untuk mengenang tentang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, seperti yang kita dengungkan ketika Anamnese. Disana nampaklah bahwa kita selalu mengenang Dia dan ingin untuk berjumpa dengan-Nya.

Keinginan tersebut sangat nampak dalam situasi perjalanan di Emaus, ketika hati dua murid tersebut berkobar-kober, mereka menginginkan agar Yesus yang ketika itu belum mereka kenal dengan jelas untuk singgah di rumah mereka. Dengan keinginan untuk mengejak, merekapun harus rela untuk membagi waktu, pikiran, tempat dan lain sebagainya untuk menyambut orang baru ke dalam rumah mereka. Disinilah mereka mulai mewujudkan semangat Ekaristi. Semangat Ekaristi merupakan semangat memecah diri dan siap di bagi-bagi, sebagaimana roti dipecah-pecah oleh imam dan dibagikan kepada umat. Selain itu mereka secara tidak langsung telah bersedia mengundang Anak Allah (Yesus) atau keselamatan atau kedamaian untuk singgah diantara mereka, dan hal ini mereka sadari ketika mereka sadar jika hati mereka begitu berkobar-kobar saat Yesus berbicara pada mereka.

Pada Yohanes 6:1 – 15, saat orang-orang mengikuti Yesus mulai kelaparan, Yesus mengajak para murid-Nya untuk memberi mereka makan. “Jangan pernah membiarkan sesamamu kelaparan!” itulah kira-kira kehendak Tuhan. Dan inilah makna sosial dari perayaan Ekaristi.

Sudah sekian tahun kita mengikuti pereyaan Ekaristi, namun kita mungkin tidak tahu apa yang harus kita perbuat setelah ekaristi berlangsung. Setelah selesai mengikuti ekaristi, kitapun diajak untuk berbagi karena di sekitar kita cukup banyaklah orang yang kekurangan. Kerelaan berbagi bisa dimulai dari sikap pribadi, misalnya kita menyisihkan uang jajan dan cukupilah dengan makannan di meja makan yang telah tersedia. Contoh lainnya adalah di setiap sekolah-sekolah Katolik, setiap tanggal 7 diadakan kegiatan dimana anak-anak diajak menyisihkan uang jajannya dan dari hasilnya itu diberikan kepada teman-teman mereka yang kekurangan. Kegiatan seperti ini dimotori oleh MPK (Komisi Pendidikan Keuskupan).

Jika kita membaca dengan cermat Kisah Para Rasul 2: 42. 44 – 47 dikatakan disana bagaimana para rasul membagi-bagikan kepunyaannya dan kepunyaannya adalah milik bersama. Sangatlah mungkin bagi kita untuk berbuat demikian. Sebetulnya bacaan tersebut mencerminkan bagaimana Gereka perdana melakukan perayaan Ekaristi pada waktu itu karena mereka masih beranggapan masih disekitar tradisi dan agama Yahudi. Namun lambat laun mereka menemukan ciri khas pembeda antara mereka dengan orang Yahudi.

Kembali kedalam konteks bagaimana dan dengan siapa kita dapat berbagi. Sebetulnya, kita dapat berbagi dengan sahabat-sahabat kita dan kita harus mampu berbagi dengan sesama kita. Sesama kita bukan berarti orang-orang yang sepaham dan sejalan dengan kita, namun sesama merupakan setian gelintir orang yang berada di dekat atau di sekitar kita ketika kita berada di suatu tempat.

Saat ini kita berkumpul dengan sebagian dari sahabat-sahabat kita disini. Bagaimanakah cara kita untuk berbagi dengan mereka, jika kita tidak mengetahui apa yang mereka butuhkan dan mungkin kita tidak dapat memberi apa yang mereka butuhkan. Tadi telah kita tahu jika kita dapat berbagi dengan siapa saja. Dan sekarang kita ingin mulai saling berbagi. Kita haruslah memiliki beberapa sikap atau syarat dalam berbagi antara lain:

  1. Niat; kita hendaklah memupuk niat untuk saling berbagi kepada sahabat kita.
  2. Kerelaan untuk berbagi; kita hendaknya rela dalam membagikan apa yang sesama kita butuhkan
  3. Tindakan nyata; jika kita telah memiliki niat dan  rela untuk berbagi, semua itu tidaklah berarti jika kita tidak menyatakannya dalam bentuk tindakan nyata yang konkret.

Janganlah berpikir jika kita harus memiliki sesuatu yang wah untuk kita bagikan kepada yang membutuhkan, karena seorang pengemis atau kaum papa-pun telah berbagi kepada kita. Dalam konteks antar sahabat, waktu adalah sesuatu yang mudah sekali untuk kita bagikan kepada teman-teman kita. Waktu untuk mendengarkan keluhan, mendengarkan pendapat, mengajari teman saat belajar, membantu teman, bertanya ataupun hanya sebuah sapaan itu dapat kita sebut berbagi dengan sesama.

Sebagai contoh konkret, ketika kita sedang mentraktir teman, banyaklah sesuatu yang kita bagikan. Kita membagikan waktu untuk mengajak, bertemu, waktu ketika mentraktir dan membayar; tenaga untuk menemui, berbicara ketika mengajak, menuju tempat pertemuan, memesankan traktiran, membayar traktiran; pikiran untuk berbicara yang akan dibicarakan, cara mengajak, memikir pesanan, rentang biaya traktiran, cara membayar; uang untuk mentraktir; dan masih banyak yang kita bagikan dalam satu kegiatan tersebut.

Sekarang marilah kita berusaha untuk selalu berbagi dengan sahabat-sahabat kita dengan membagikan cinta kasih yang dapat membahagiakan mereka. Dan selain itu marilah kita juga berusaha untuk berbagi waktu dengan Tuhan dengan menyiapkan hati dan bait kudus dalam diri kita untuk mengundang Dia agar hadir dan selalu mendamaikan jiwa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s