Salib #1 : ‘Alat atau Jimat’

Terkadang orang bertanya-tanya apakah salib (benda) yang di bawa kemana-mana oleh orang Kristiani itu adalah sebuah ‘jimat’ (sesuatu yang dipercaya dapat menyelamatkan) atau hanya sekedar sebagai asesoris ataupun simbol identitas seseorang. Namun, karena sikap beberapa orang yang agak berlebihan dalam memakai atau menggunakan salib, terkadang kita menganggap bahwa salib itu tidak jauh seperti jimat yang dapat menyelamatkan dikala dalam kesusahan.┬áNah, disini saya ingin sedikit berbagi pendapat dan keyakinan yang dapat membantu pemahaman kita mengenai apakah salib itu sebenarnya.

Sebelumnya saya ingin menunjukkan bahwa ada 2 jenis salib (benda) yang sering kita liat, yang pertama adalah salib dengan ‘chorpus‘ dan salib tanpa ‘chorpus’. Chorpus adalah sebuah patung tubuh, dalam hal ini patung Yesus yang tergantung di kayu salib dan diatasnya ada tulisan ‘INRI’.

gambar 1. Salib dengan Chorpus

gambar 2. Salib tanpa Chorpus

Disini saya lebih condong dan memilih Salib dengan chorpus yang menunjukkan suatu iman Kristiani, terutama iman Katolik. Oke, soal lebih condong kemana, hal ini gak usah dibahas lebih.. hehehe,

Kembali ke inti pertanyaan awal, apakah salib itu sebagai jimat atau bukan?

Disini akan saya paparkan 2 cerita mengenai pengalaman seseorang bersama salib yang selalu ia bawa.

Cerita 1:
Pada suatu hari, Bunga (nama samaran) pergi ke puncak bersama teman-temannya. Seperti biasanya dia selalu memakai kalung salib, yang ia percaya dapat menyertai dia dalam perjalanan. Ketika dalam perjalanan tiba-tiba Bunga mengalami sebuah kecelakaan yang cukup parah, mobil yang ia tumpangi ringsek. Iapun tak sadarkan diri dan dibawa orang sekitar ke rumah sakit. Namun naas, beberapa temannya ada yang meninggal. Beberapa jam kemudian ia sadar dan diceritakan oleh orang bagaimana kejadian kecelakaan tersebut. Setelah mengetahui kondisi mobil dan teman-temannya, ia sangat bersyukur sekali karena dapat selamat dari musibah tersebut dan ia percaya bahwa nyawanya selamat karena ia membawa kalung salib itu. Ia percaya salib itulah yang telah menyelamatkan nyawanya.’

Cerita 2:
Pada suatu hari, Kembang (nama samaran) sedang berkemah dalam acara tahunan sekolah. Dia bukanlah anak yang religius, namun entah mengapa suatu saat dia ingin sekali memakai kalung salib disaat acara kemah tersebut. Suatu malam, terjadi hujan dan angin ribut yang melanda perkemahan itu. Karena berlokasi di dekat tebing, maka tidak sedikit pohon yang tumbang dan menimpa tenda-tenda disana. Suasana saat itu kacau, dan banyak yang menjadi korban, entah tertimpa pohon ataupun terjatuh saat hendak berteduh. Kembang saat itu sedang tertidur lelap dalam tenda. Teman setenda panik dan berusaha membangunkan dia. Karena tidak kunjung bangun, ia ditinggal temannya berlindung. Tenda sekitar Kembangpun tak elak dari terjangan pohon, dan ajaibnya tendanya aman dan masih tetap berdiri. Ketika reda, Kembang terbangun dan kaget akan kondisi sekitar perkemahan. Dia hanya termenung sambil melihati kalung salib di dadanya, dan bergumam “sungguh, Allah telah menyelamatkanku”. Sejak kejadian itu Kembang menjadi rajin berdoa dan besyukur kepada Allah’

Dari kedua cerita di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pada cerita pertama salib itu dianggap oleh Bunga sebagai sebuah benda yang dapat menyelamatkan hidupnya ketika musibah terjadi. Namun, pada cerita kedua salib diposisikan sebagai suatu benda yang mengingatkan Kembang bahwa Allah selalu beserta dan menyelamatkan dia.

Apabila kita menganggap salib itu seperti jimat, jika kita tidak membawanya maka kita tidak beroleh keselamatan apakah bedanya dengan kita menganggap bahwa salib itu bagai Tuhan yang mampu menyelamatkan kita? Tindakan menganggap dan memperlakukan salib sebagai jimat adalah suatu tindakan dosa besar yang melanggar 10 Perintah Allah point 1, yaitu ‘Jangan memuja berhala, berbaktilah kepada-Ku sajadan cintailah Aku melebihi segala sesuatu’.

Maka sebaiknya dan seharusnya, kita menganggap salib adalah satu sarana/alat yang dapat mengingatkan kita akan cinta kasih Allah kepada manusia dan alam ciptaan, mengingatkan bahwa Ia selalu ada untuk menyelamatkan kita dari berbagai musibah. Dan salib yang dengan mudah mengingatkan kita bahwa Allah selalu menyelamatkan adalah salib dengan chorpus, karena disana kita dapat melihat bahwa Allah sendiri telah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita.

Demikianlah penjelasan singkat saya mengenai salib, apakah sebagai alat ataupun jimat. Semoga dengan ini kita dapat bijak dalam bersikap bahwa BUKAN salib yang menyelamatkan kita, tapi KRISTUS-lah yang selalu beserta dan menyelamatkan kita. Salib adalah suatu sarana yang mengingatkan kita akan Kristus yang menjadi silih dari dosa kita disaat kita terlupa akan karya penyelamatan-Nya.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat kepada saudara/i semua.
Terima Kasih.
Berkah Dalem,

Y. Radian. G. H.

About these ads

6 Comments

  1. Ping-balik: Salib #2: ‘Beban Hidup dan Kemenangan’ « Radian's Blog

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s